BADAI CINTA DI MUSIM SEMI (Satu)

ARRABIUL ASHIF

Karya :  Najib Kailani

Diterjemahkan Oleh :  Setyono MP *

Kereta melintasi areal pertanian yang membentang antara Kampung Sanbat dan Syarsabah. Dalam kalbunya terpendam gumpalan amarah, kepedihan dan kesedihan. Bayangan kota Kairo yang indah dan anggun di mana ada secercah sinar kehidupan, teman-teman, penduduk, kenangan-kenangan indah dan bayangan kampung yang penuh kedamaian, keteduhan dan kerukunan menjejali pikirannya.

“ Kapan sampai ke Syarsabah?, “ tanya Manal cemas pada Pak Kusir

“ Sebentar lagi. Sekarang kita berada di Kampung Husain, setelah itu Kampung Sahmiyah, dan di sebelahnya terletak Kampung syarsabah. Sebuah kampung besar. Berpenduduk sekitar 15.000 jiwa.”

Ini saat pertama Manal pergi ke pedesaan. Sebelumnya ia tinggal di Kairo, di Kampung Sayyidah Zainab. Menempuh pendidikan MI dan SMP di sana. Lantas melanjutkan sekolah di Akademi Keperawatan. Setelah lulus ia bekerja di sebuah Rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, Manal menyeka air matanya. Ia merasa hati, jiwa dan semuanya ikut menangis. Segala sesuatu yang bersemayam dalam dirinya juga ikut menangis Kenangan-kenangan manis masa silam memenuhi pikiranya. Kenangan itu hanya membangkitkan kepedihan dan kekecewaan. Telah lama ia terbelenggu saat-saat menyedihkan itu .Ia teringat ibunya yang memeluknya, mengusap kepalanya penuh kasih, meringankan beban hatinya. Terbayang olehnya hari-hari indah di kebun binatang, piramid, di tepi sungai Nil, di gedung bioskop megah dan semua tempat keramaian di kota Kairo. Ia sering tersipu tatkala ingat istana Qoshrul Ain, dunianya yang mempesona dan mengesankan, tempat tinggal dokter-dokter elit dan ratusan bahkan ribuan temannya. Ia juga terbayang jalan-jalan besar saat malam-malam indah di Kairo di mana ada sejuta harapan yang memikat jiwanya. Dan ratusan kisah yang bersemayam di sebuah bangunan besar…di ruang pasien, di kamar periksa dokter, di ruang-ruang operasi….

“ Ini Kampung Husain, “ Manal tersentak dari lamunan oleh suara Pak kusir

Di balik cendela kereta, Manal mengarahkan pandangannya. Debu-debu berhamburan di jalan-jalan persawahan. Anak-anak kecil berjalan kaki. Kadang mereka berkerumun di sekitar kereta dan membuat suara gaduh. Mereka mencoba menggandoli sisi-sisi kereta. Sekawanan ayam, itik, kambing, tampak di jalan hingga merepotkan Pak Kusir. Wanita-wanita naik kereta hitam. Kepala mereka tampak di celah-celah cendela atau pintu yang menghadap ke pinggir jalan.Tampak kandang-kandang kumuh berjajar. Di dalamnya menyembul aneka bau…..bau kehidupan manusia dan binatang. Jalan-jalan di kampung itu tampak berlobang-lobang dan terjal hingga membuat kereta berjalan naik turun dan tubuh Manal tergungcang ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah. Ia berusaha sekuat tenaga mengimbangi laju kereta.

“ Mengapa mereka tak memperbaiki jalan ini ?, “ gerutu Manal

“ Kata-katamu mengingatkan aku pda seorang pangeran .Ia tahu rakyat memberontak karena kelaparan, lalu sang pangeran berkata aneh pada ayahnya, “ Jika rakyat tak menemukan roti mengapa mereka tak makan kayu  ??

Manal tersenyum. Sebuah senyum yang tak tumbuh dari dari lubuk hatinya. Ia merasa ada sesuatu yang lucu.

“ Seperti inikah Kampung Syarsabah ? “

“ Kampung Husain adalah gambaran kecil kampung Syarsabah, Nona.”

Kereta keluar dari Kampung Husain. Di sebelah kanan ada kolam luas tempat bebek dan angsa berenang. Di pojok-pojoknya menyengat bau busuk. Di sekitarnya membentang pagar-pagar hijau. Di sisi jalan tumbuh pohon-pohon kering dan layu, laksana seorang petani lusuh sedang duduk di gubuk memberi makan kerbau atau mencangkul tanah.

Syarsabah telah dekat. Manal merasa pergi ke Kampung kematian. Ia lihat warga lalu lalang. Ia merasa terseret ke lobang kematiannya sendiri. Tetes-tetes bening mengalir dari kelopak matanya. Matanya kabur. Tak dapat lihat bangunan indah. Juga tak dapat lihat kedai yang jual minuman. Sayup-sayup manal dengar suara Pak kusir yang mencoba meredam kegaduhan akibat ulah anak-anak kecil.

“ Jangan sedih, Nona.Tiap kehidupan dapat mendorong kita menderita sedikit kepahitan. Syarsabah itu kampung damai.Aku tahu betul penduduknya baik-baik. Kampung itu tak jauh dari Thanta, kampung kelahiran Sayyid Badawi,sekitar 20 km .Di kampung itu banyak jutawan dan pegawai besar.Yakinlah Kau takkan merasa bosan.”

Ketika kereta melintas di depan bangunan MI , seseorang berhenti, berdiri di tepi jalan. Dengan suara lantang ia meneriaki anak-anak agar minggir. Ketika kereta mendekat, ia berdiri khusuk, mengangkat alas kakinya memberikan penghormatan.

“ Apa kita masih hidup?, “ tanya Manal heran

“ Ya, semua warga tahu Kau sedang melintantasi jalan, lantas para petani memberi penghomatan pada setiap penumpang kereta. Akan Kau lihat sesuatu. Mereka selalu menghubungkan Kau dengan suster Rumah Sakit. Semua yang membawa alat suntik dan berseragam putih, menurut mereka, adalah dokter atau pegawai negeri….jadi harus dihormati dan diberi hadiah. Mereka itu orang-orang lugu. Hati mereka putih bersih seperti kapas, seperti susu murni.

Tiba-tiba pak Kusir menghentikan pembicaraannya, lantas tangannya menunjuk pada sudut kiri sebelah MI dan berkata, “ Ini bangunan besar.Tak kalah megah dengan bangunan di           Kairo.

“ Ya, mungkin itu rumah Pak Kades, “ kata Manal

“ Bukan.Itu rumah milik seorang jutawan kampung. Mereka menyebutnya “ JUNAID “, sebuah kongsi yang mengusai sebagian besar lahan pertanian.”

Mata-mata lugu menerobos ke cendela kereta.Beberapa saat terpaku pada sosok gadis cantik yang duduk di belakang. Tatapan kerinduan baru saja mengiringi kereta yang menghamburkan debu di belakang rodanya. Hampir menenggelamkan kendaraan tradisional itu dari pandangan mata. Berkali-kali Pak Kusir membunyikan bel agar anak-anak kecil menyingkir. Di tepi jalan tampak warga pakai surban. Jarang sekali yang pakai topi turbus. Sebagian ada yang tidur di atas gubuk. Walau terlalu gaduh, namun menurut Manal kegaduhan itu menyiratkan rona keindaha. Apakah Manal akan mengalami kebisingan seperti di stasiun Sayyidah zainab, hiruk pikuk bis, trem, di tempat-tempat hiburan, restoran, seperangkat radio yang memenuhi langit kota dengan nada, lagu dan nyanyian..????

Kereta melintasi jembatan kayu yang lusuh. Menyeberangi sungai besar tempat bermain anak kecil dan minum binatang ternak.Di pinggir sungai itu terhampar rumput hijau dan pohon-pohon besar.

“ Itu tempatnya, Nona, “ Pak kusir menurunkan Manal tepat di  tepi jembatan.

Manal sedikit mengerutkan matanya. Memandangi bangunan putih megah yang terdiri dari beberapa bangunan kecil. Di bawahnya ada rentetan kran air pancuran yang terbuka. Perempuan-perempuan meletakkan pakaiannya di bawah air yang memancar itu. Pagar-pagar kawat mengelilingi bangunan itu. Manal merasa itu sebuah penjara walau bangunan itu indah dan bersih.

Kereta berhenti di depan sebuah bangunan besar. Pak kusir turun, membuka pintu belakang. Manal keluar setelah pakai kacamata hitam.Gadis itu tetap berdiri. Saat itu dengan cepat seorang pembantu perempuan membawa kopernya ke dalam. Kata-kata sambutan dan penghormatan meluncur dari mulut warga yang berkerumun dekat kereta. Di depan Rumah Sakit itu seorang dokter baru berdiri.Tangannya mempermainkan rantai perak.Tubuhnya gemuk. Jas putih tak dapat menutupi posturnya yang bundar. Rambutnya tampak berkilau diterpa sinar matahari. Kacamata putih bertengger di matanya, menambah kerapian.

Para pengunjung kedai sebelah berdiri tertegun. Mereka tinggalkan gelas-gelas minuman berisi teh dan kopi. Semua mata tertuju pada seorang gadis cantik. Rambutnya hitam pekat. Wajahnya putih.Tubuhnya seksi.Matanya indah.Dadanya montok.Jari-jari tangannya lembut.Di tangan kirinya melekat alroji emas.Di tangan kanannya terselip cincin dan gelang. Di sekitar lehernya melingkar kalung berlian, serasi benar dengan anting-antingnya.

Pak Hamid bertepuk tangan dan berkata dengan suara lantang, “ He…Aku gembira.Demi Allah yang Maha Agung, aku gembira.Selamat datang…Selamat datang., Putri Mesir..”

Suara Pak Hamid terdengar jelas di tengah kerumunan warga yang dilanda keheranan.Semuanya bingung.Baru kali ini ada seorang gadis kota dan cantik masuk kampung.Seorang dokter menghampiri pintu Rumah Sakit.Di sekitarnya ada beberapa pria sedang bertugas, sebagian lagi tokoh-tokoh berpengaruh di kampung. Mereka tersenyum…. senyum persahabatan… senyum tanpa makna. Mungkin begitulah bayangan Manal. Seorang dokter muda menyalaminya. Sikapnya sedikit ragu.

“ Dokter Ramzi Ibrahim “

“ Manal Abdul majid “

“ Selamat datang “

Orang-orang yang duduk-duduk di kedai tadi kembali ke tempatnya. Menyeruput teh dan kopi. menikmati makanan kecil.Suara bisik-bisik terdengar di sana sini., “ Gadis mesir cantik sekali…Oh Kekasih Berambut lebat…Oh Dunia..Santapan empuk bagi kalian…Oh Tuhan…Wahai istriku…..Saat itu suara seorang penyanyi mengalun.

Demi Allah, jika kondisi zamanku cerah, tentu aku akan menempatimu, Wahai Mesir……

Di sekitarnya terdengar suara decak kagum.Terpesona.Jiwa-jiwa baru bergairah. Kehidupan indah mengetuk pintu-pintu kampung mereka yang tidur….yang terlelap di pinggir sungai yang tenang, damai, bening seperti bertahun-tahun lalu….

Sementara itu dokter mengenalkan Manal pada teman-temannya. Pandangan gadis itu tak mengarah pada salah seorang dari mereka, tak juga pada dokter, tokoh kampung, Pak Hamid dan pemilik kedai, tapi mengarah pada seorang laki-laki aneh berwajah kuning.Laki-laki itu bernama Abdul mukti. Ia orang penting… penting sekali.( Bersambung )

Setyono MP,             

Lahir di Tuban 10 November 1970,  Alumnus Pondok Modern Muhammadiyah Paciran-Lamongan JATIM dan alumnus Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud Jakarta. Giat mMenulis opini di berbagai media antara lain ; SALAM, Terbit, AMANAH, Jawa Pos, Serial Khutbah jumat, Pelita dll. Menerjemahkan lima buah novel karya Najib kailani

Alamat    :   Jl. Ngaglik Raya RT 07 RW 02 Karangagung Palang Tuban Jatim

, , ,

  1. #1 by Yanti Amalia (@yanti_amalia) on Oktober 30, 2014 - 8:51 am

    Ass, maaf mau tanya, punya file2 novel2 terjememahan najib kailani? kalau punya mohon bantuannya ya, saya lagi butuh buat tugas. terima kasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: