Badai Cinta di Musim Semi (Bagian 2)

Karya Najib Kailani

Penerjemah : Setyono MP *

            Manal menoleh ke arah orang itu. Kulitnya kuning.Perutnya buncit. Pakai jubah jelek. Lalu, gadis itu kembali sedih. Ia merasa lembaran hidup barunya penuh keterasingan, kepiluan dan kepedihan.

            Pagi-pagi Abdul Mukti bangun.Duduk sendiri di ruang bercahaya redup.Duduk termenung di samping tembok.Bersandar bantal lusuh.Tampak selimutnya yang kumal bercampur beberapa potong pakaiannya.Abdul Mukti punya lima saudara yang semuannya petani.Saudaranya. punya banyak anak.Tinggal di sebuah rumah sempit.

            Abdul Mukti terus merenung.Sarapan berupa segelas susu segar, sepotong keju dan roti kering tak disentuhnya.Ia hanya mengambil sebatang rokok dari kotak kaleng berkarat. Pagi itu ia tak berselera makan. Otaknya penuh kertas dan pena. Kedua benda itu merupakan bagian besar dari hidupnya. Ia tak jadi petani seperti ayah dan saudaranya.Sejak kecil sudah hafal al-Qur’an. Pandai membaca dan menulis. Menguasai beberapa kitab fikih klasik..Suka baca koran dan majalah. Di kalangan petani, ia termasuk orang yang disegani..Ia yang menuliskan surat-surat untuk mereka dengan gaya bahasa yang anggun. Menerangkan pada mereka soal undang-undang dari Departemen Pertanian, aturan-aturan dalam

koperasi, tata cara membayar pajak, harga pupuk dan  dan kapas serta sesuatu yang berkaitan dengan bidang pertanian. Ia juga menjelaskan semua masalah yang terjadi di kalangan petani. Pokoknya  Abdul Mukti benar-benar orang berwibawa di kampung. Ia begitu berani jika menghadapi Pak Kades, tokoh masyarakat dan petugas penarik pajak. Bila ada orang yang membuatnya susah atau mempersulit urusannya, ia tak segan-segan memaksa salah seorang dari mereka untuk menanda tangani berkas-berkas yang ia butuhkan. Pena dan kertas selalu di tangannya. Lembaga-lembaga kemanusiaan menerima semua proposal dan mewujudkan program-program kerjanya, walau kadang ia salah melaksanakan prosedurnya. Semua warga kampung masih ingat saat  Abdul Mukti menjatuhkan seorang tokoh hingga ia dijebloskan dalam penjara.Di sinilah peran penting Abdul Mukti. Kata para petani langkah dan strateginya seperti rantai emas. Bila bersumpah, pasti memenuhi sumpahnya. Pertolongannya mantap walau terlambat.Dendam adalah wataknya. Ia benci mereka yang di atasnya, hingga ia sangka merekalah penyebab kemiskinannya, penyebab sakitnya…..serta setengah buta di salah satu matanya dan sedikit gangguan di perutnya..Semua warga menganggapnya orang yang bangga terhadap perjuangannya demi sebuah Rumah Sakit. Dan berdirinya Rumah Sakit di kampung punya sejarah panjang. Sejak proyek itu dimulai, selama bertahun-tahun sumbangan mengalir deras. Semua uangnya dikantongi pejabat daerah, lalu muncul berita di koran bahwa pejabat tadi menyumbang banyak dari kantong pribadinya.Ia mengangkat isu itu untuk mempromosikan dirinya menghadapi Pemilu. Zaman berputar. Janji-janji menumpuk. Penduduk kampung tak menemui harapan., hingga Abdul Mukti mengambil pena, menulis artikel, mulai melancarkan kritik di Koran hingga terjadi polemik  besar di media massa., lantas terjadi revolusi. Ia berjuang hingga mimpi besar warga terwujud..Dan Rumah Sakit jadi kenyataan. Di hari pembukaan Rumah Sakit Abdul Mukti pakai jubah wol dan kopiah berwarna putih susu.  Tasbih coklat di tangannya.Tongkat tergantung di lengannya.Ia berdiri di pesta peresmian Rumah Sakit itu.Membaca puisi panjang karya Ibnu Syaddad dan Abu Zaid al-Hilasi.

            Kalian memuliakan kami…..Cinta halaman rumah kami

            Syarsabah meraih prestasi

            Orang-orang bangga dengan lembah kami

            Kemuliaan dan kedamaian milik manusia bertakwa

 

            Saat itu warga tersenyum, mengejek puisi Abdul Mukti. Hanya musik yang mengiringi yang menarik perhatian para petani.Mereka bertepuk tangan lama sekali Padahal dalam pandangtan mereka, Abdul Mukti orang yang disegani., yang  membangun Rumah Sakit, yang mengerti segalanya, dan tak kalah selamanya.

            Pagi itu Abdul Mukti tak menghiraukan semua itu.Ada satu hal yang menggunjang jiwanya. Pikiran melelahkan merambat ke dalam hatinya seperti mengalirnya air ketika turun ke tanah. Ya, Manal yang menggoda hatinya .Manal seorang suster baru. Gadis asing yang masuk kampung.Namanya beredar di setiap rumah.Setia hati merindukannya..Orang yang belum pernah melihatnya pasti penasaran. Seakan-akan ia seorang Ratu yang jadi buah bibir di tengah kampung yang memasuki zaman baru., hingga cahaya peradaban menyinari rumah-rumah penduduknya.

            Yang lebih menggelisahkan Abdul Mukti adalah dirinya yang miskin, cacat dan setengah buta..Lalu ia membandingkan dirinya dengan seorang dokter muda dan tampan. Penampilannya yang modis, menggetarkan tangan untuk menyentuhnya. Ia juga ingat saat menghadiri pertemuan  bersama dokter yang posturnya tegap dan gaya bicaranya meyakinkan. Ingat juga para pemuda yang sedang mengadakan praktek di laboratorium., para mahasiswa di kampung yang bicara soal asmara, wanita dan politik. Di antara mereka mana yang akan disingkirkan Abdul Mukti ????. Akankah Manal mengalami peristiwa semacam ini, jadi rebutan laki-laki, menolak cinta mereka dan memilih pemuda cacat seperti Abdul Mukti  ????

            “ Bagaimana aku tak tertarik.Aku Abdul Mukti Kalau bukan karena aku, Manal takkan dating ke sini.Aku berjuang membangun Rumah Sakit..Kevokalanku sering merepotkan pejabat daerah dan anak buahnya. Sikapku mampu mengikis keangkuhan Pak Kades.dan tokoh masyarakat.Aku putra kampong sejati. Di sini posisiku sangat penting. Memang aku miskin dan jelek, tapi aku naksir Manal karena kedudukanku yang menakutkan dan bermodalkan ketajaman pena. Aku penguasa kampung ini. Dan ini simbol kejantanan dan kepahlawanan. Apakah laki-laki hanya dinilai  dari segi wajah dan penampilan saja ???.Mahasiswa-mahasiswa itu bukan orang pandai. Mereka hanya pandai bergaya.Adapun yang lainnya hanya karyawan biasa.Jika mereka berbuat macam-macam, akan kuhajar dan kulemparkan ke sungai atau kubuang ke Rumah Sakit lain.”

            Sejenak Abdul Mukti menepis desir perasaan yang merasuki otaknya yang kalut dan lelah..Dalam pikirannya kembali terlintass bayangan seorang gadis cantik turun dari kereta kemarin..Sikap gadis itu menggambarkan keceriaan, menggairahkan hidup dan menumbuhkan harapan besar.Ah, kalian lihat bayangan gadis itu menyapa di malam-malam panjangnya., hingga ia tak dapat tidur.Betapa ia mendambakan gadis itu hadir menghiasi mimpi-mimpinya.Ia adalah cinta dan kerinduan…..siksa dan kenikmatan..Ia tak seperti gadis-gadis yang dilihat Abdul Mukti di gedung bioskop di kota kecil.Tak seperti gadis-gadis kampung yang kurus dan berlumpur.Manal tercipta hanya untuk laki-laki. Mengapa aku tak jadi laki-laki itu ????Penyakitku dapat disembuhkan. Mataku juga dapat diobati.Sering aku baca di koran tentang operasi cangkok kornea..Mimpikah itu ???. Setelah itu aku bisa bersikap angkuh dan meyakinkan.Aku seorang manusia, punya potensi, gairah dan masih muda Abdul Mukti menggerakkan lengannya, lantas memujinya sendiri untuk meyakinkan dirinya. Ia anggap dirinya perkasa.Ia sadar dari lamunannya oleh suara ibunya,

            “ Sedang apa kau Abdul Mukti ? .Kenapa Kau tak berolah raga ???

            Perempuan itu membawa pinggan, ada susu segar dan roti. Abdul Mukti mengangkat kepalanya. Melongo. Seorang perempuan tua renta.Wajahnya keriput.Rambutnya penuh uban.Giginya ompong.Tubuhnya bungkuk seperti tulisan tanda Tanya yang gelisah dan gemetar.Sungguh berbeda antara Manal dan ibunya.Antara Syarsabah dan Kairo.Abdul Mukti tak menjawab pertanyaan ibunya.Ia hanya diam.Saat itu ibunya mengalihkan pembicaraan,

            “ Kata mereka, hari ini Rumah Sakit mulai buka.Ibumu harus jadi pasien pertama yang diperiksa dokter.Kepalaku sering pusing dan batuk-batuk “

            “ InsyaAllah………InsyaAllah…..”

            “ Demi Allah, kita masih hidup.Akan kita lihat Rumah Sakit itu. “

            Tiba-tiba perempuan tua itu berhenti bicara.Memandangi Abdul Mukti penuh sesal.

            “ Mengapa Kau lupakan dirimu, Abdul Mukti ? .Kesehatanmu memburuk.Sejak dulu Kau selalu melalaikan dirimu sendiri.Kau harus berobat.Setiap kali kusuruh menikah Kau berkata, kesehatanku tak memungkinkan untuk menikah.Setiap kali kusuruh kau cari pekerjaan, Kau takut tes kesehatan.Sekarang Kau dapat mengobati dirimu sendiri.Mengapa Kau tak cepat-cepat menikah ???.Aku akan bahagia melihat pernikahanmu sebelum aku mati.”

            Wajah Abdul Mukti makin pucat.Tanda-tanda kepedihan dan kepahitan terlukis di wajahnya.Kata-kata ibunya laksana paku yang menancap di hatinya yang mulai tumbuh bunga-bunga cinta dan kehidupan, mulai bersentuhan dengan kenyataan-kenyataan memedihkan, jauh dari langit fantasi dan angan-angan.Dirinya makin menderita dan frustrasi.Hatinya penuh dendam dan gejolak.Ia merasa hidupnya sia-sia.

            “ Kau bicara apa ?, teriak Abdul Mukti.” Keluar..!!! Biarkan aku sendiri !!!Jangan Kau ulangi lagi bicara seperti itu.Jika tidak…

            “ Ya Allah, setan apa yang merasuki hatimu.??? Ada apa , Nak ??? .Aku hanya memikirkan nasibmu.”

            Ibunya keluar.Perempuan itu tak tahu pasti apa yang membuat anaknya bingung, tapi ia segera minta maaf.Orang sakit sering cepat marah.Ia tak mampu mengendalikan diri.Ia hanya berdoa agar Allah menyembuhkan penyakitnya dan memberinya umur panjang.

            Abdul Mukti benci makanan.Tiap hari susu, keju, roti kering,segelas teh hitam.Tak ada yang baru.Semuanya membosankan..Ia muak melihat perkakas rumah.Di rumah tak ada sesuatu yang baru yang dapat menyenangkan hatinya, menentramkan jiwanya,

            Abdul Mukti ingin berdiri.Bersenandung tentang udara segar,tapi ia hanya diam mematung.Ia harus makan.Bagaimana ia dapat hidup tanpa makan ???.Mulai sekarang ia harus memikirkan kesehatannya.Kata-kata ibunya memang benar.Tapi ia bandel.Keras kepala.Ia takkan sarapan susu dan keju saja, tapi ditambah dua butir telur.Mulai sekarang ia akian makan makanan bergizi tinggi.Akan ia ambil tabungannya selama bertahun-tahun.Kesehatannya lebih berharga dari harta benda, dunia dan isinya.Ia akan mengorbankan hartanya demi kesehatannya.Tak segan berobat ke dokter.Menurutnya, kesehatan bisa mendatangkan kebahagiaan.

            Ia dengar suara lembut dari sudut dalam rumah

            “ Abdul Mukti, bangun..bangun…!!! Tuliskan surat buat si gadis.

            Abdul Mukti kenal suara itu, suara Elly,istri al-marhum Abbas Abu Najam.Janda itu selalu mengusiknya.Putrinya bekerja jadi pelayan di Thanta.Abdul Mukti selalu minder dan takut padanya.Ia ingin mengusirnya dan enggan menuliskan surat.Tapi ia tak boleh bersikap begitu.Kini ia butuh uang.Uanglah yang akan mengubah jalan hidupnya serta membuat Manal selalu lengket dengannya.

            “ Masuklah,Elly…Masuklah wanita cerewet…..!!!!

            Abdul Mukti mulai melancarkan humor-humor segar.Membentangkan butir-butir harapan di depan Elly.Menggoda dan bergurau dengan janda itu.Ia menuliskan surat untuk putrinya.Si janda terus nerocos, membual, mengulang kata-kata yang berkaitan dengan wesel kiriman putrinya yang selalu ia tunhggu.Abdul Mukti berikap sabar.Tampaknya Elly suka sikapnnya yang tenang menghadapi tingkah lakunya.Buktinya, wanita itu memberinya 5 Qirsy setelah selesai menulis surat.

            Ketika keluar, nafas wanita itu memburu.Ada beban berat dalam jiwanya.Beban itu bertambah berat setelah ada perkembangan akhir yang berkaitan dengan Abdul Mukti.” Ini jebakan.Wanita dungu itu ingin menikah denganku.Aneh dan lucu…!!Tapi ia bersyukur, ada kebaikan dalam dirinya.Ia tak lagi menganggapku hina, “ gerutu Abdul

 Mukti

            Abdul Mukti menarik nafas.Marah.Lantas berdiri.Ada benda seperti kelambu menyeret tubuhnya.Bayangan itu terus menyelimuti pikirannya.Darah panas mengalir deras di urat nadinya.Ia merasa kedua pipinya telah meleleh oleh bekas panas yang membakar jiwa dan tubuhnya.Bayangan wajah Manal yang mempesona serta harum tubuhnya memenuhi dunia khayalnya.Segera ia mengambil jubah wol di atas gantungan baju di dinding.Di sampingnya ada tongkat indah, tasbih anggun dan kopiah putih.

“ Sekarang aku akan menemui Manal.Bukankah kemarin aku berkata bahwa aku orang penting…penting sekali“ , kata Abdul Mukti saat mengenakan pakaian kebesarannya. ( BERSAMBUNG……..)

* Kaur Umum dan Pemerintahan Desa Karangagung Palang Tuban

, ,

  1. #1 by Klik Saya on Februari 16, 2012 - 9:08 pm

    Siplah tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: