Menyongsong Konfercab PCNU Tuban – Film Sang Kyai dan Peran Politik NU

sang_kyai Oleh : Khozanah Hidayati *

Sebentar lagi PCNU Tuban akan mempunyai gawe besar berupa Koferensi Cabang untuk menelorkan garis- garis besar rencana kerja lima tahun ke depan dan juga memilih pengurus baru organisasi kaum sarungan ini. Di samping itu, sekarang ini lagi ramai diperbincangkan tentang Film Sang Kyai yang disutradarai oleh Rako Prijanto yang menceritakan fakta sejarah perihal perjuangan kaum sarungan yang dikomandani oleh Hadratus Syaih KH. Hasyim Asy’ari yang notabene adalah pendiri dan fathing father NU.

Film tersebut menceritakan perjuangan memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan RI di tahun 1942 – 1947 yang dimotori oleh kaum sarungan tersebut sungguh sangat bagus untuk dijadikan pembelajaran bagi anak bangsa sekarang dan di masa mendatang,khususnya generasi muda untuk memetik hibroh dan tauladan dalam memaknai  arti nasionalisme dan jihad. Hal ini karena akhir-akhir ini rasa nasionalisme sudah menurun dan bahkan semakin ditinggalkan oleh generasi bangsa. Dan juga makna jihad sudah dibajak dan disalah artikan oleh golongan-golongan yang mengaku paling benar dalam beragama.

Rasa nasionalisme dewasa ini telah digrogoti oleh budaya hedonisme yang menyeruak dan budaya populis. Sehingga rasa kebanggaan  menjadi warga bangsa telah tergadaikan oleh   budaya-budaya populis dan hedonis tersebut Sungguh sangat ironis memang. Sebut misalnya meruaknya kasus-kasus korupsi yang dilakukan justru oleh kelompok-kelompok yang mengaku paling bersih dan profesional dan bahkan di tengah masyarakat yang hidup serba  dalam kesulitan. Dan bahkan kelompok yang mengkampanyekan dirinya paling anti korupsi ternyata banyak tokoh-tokohnya yang tersandung dan tersandra kasus korupsi.

Melunturnya semangat nasionaliame juga ditandai semakin terpuruknya prestasi anak bangsa di tengah pergaulan dunia internasional. Misalnya kalau di era delapan puluhan kita masih bisa menegakkan kepala akan prestasi atlit-atlit pebulutangkis kita, sekarang tidak lagi. Kalau di dua puluh – tiga puluhan tahun yang lalu kita bisa menjadi guru bagi negeri serumpun Malaysia, namun sekarang justru kebalikannya. Kalau dua puluhan tahun yang lalu Pancasila dan Bhinika Tunggal Eka masih selalu menjadi rujukan segenap anak bangsa dalam berkehidupan, namun sekarang banyak yang melupakannya.

Di tengah-tengah kondisi bangsa yang demikian perlu kiranya dicarikan jalan keluar untuk meneguhkan kembali rasa nasionaliame dan bangga menjadi bagian bangsa ini. Dan dengan adamya film bergenre sejarah perjuangan bangsa seperti Sang Kyai kiranya patut dijadikan salah satu sarana untuk memupuk dan memggelorakan kembali rasa nasionaliame. Karena film tersebut menceritakan bagaimana para pendahulu kita khusunya dari komunitas kaum sarungan justru menjadi pelopor dan motivator dalam perjuangan memperebutkan dan mempertahankan  kemerdekaan. Mereka tidak mempedulikan kepentingan sendiri dan kelompok, namun justru menjadikan kepentingan bangsa yang nomor satu.

Mereka yang selama ini oleh penguasa negeri ini karena alasan politis dilupkan dan dihapus dari catatan sejarah atas perjuanganya yang diceritakan kembali olah film Sang Kyai, perlu kiranya sejarah mendudukkan fakta sebenarnya. Karena dengan demikian akan bisa dijadikan oleh anak bangsa hibroh dan tauladan bahwa ternyata negeri ini juga dibangun atas curahan tenaga, fikiran dan bahkan ceceran darah dan taruhan nyawa segenap kelompok anak bangsa termasuk di dalamnya kaum sarungan yang selama ini dianggap kaum tradisional dan ndeso. Mereka justru menjadi pelopor dan motivator dalam perjuangan dan peperangan memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Dan bahkan mereka membuat bangsa penjajah harus tunggang langgang dan berfikir ulang untuk terus menancapkan kukunya di bumi Nusantara.

Film tersebut juga memberikan pelajaran bahwa perjuangan memebela tanah air adalah wajib sebagaimana perjuangan membela agama Allah. Demikian juga dengan jihad, yang oleh Hadrotus Syaih KH. Hasyim Asy’ari difatwakan dengan istilah Resolusi Jihad di tahun 1945 untuk membela tanah air dan merupakan fardlu a’in bagi segenap anak bangsa yang sudah baligh, sekarang telah dibajak oleh mereka yang mengatasnamakan pejuang islam sejati. Mereka memaknai jihad dengan melakukan bom bunuh diri terhadap sasaran-sasaran sipil dalam keadaan bukan perang. Dan akhirnya yang menjadi korban adalah mayoritas umat islam baik akibat langsung maupun  akibat tidak langsung.

Para kauam radikal telah salah mengijtihadi istilah jihad. Mereka rela membunuh dirinya demi memerangi “kaum kafir” yang ternyata saudara mereka sendiri, sebangsa setanah air bahkan saudara seiman walau ada perbedaan kecil dalam soal syari’ah. Karena tindakan radikal tersebut kaum muslim mengalami ancaman dan cercaan di beberapa belahan dunia. Dan bahkan kaum muslim mendapatkan stigma buruk dari main stream dunia.

Namun dengan adanya film Sang Kyai yang juga menceritakan fakta perihal Resolusi Jihad yang difatwakan oleh kaum sarungan yang merupakan main stream umat islam di Indonesia, akan menunjukkan dan mengajarkan bahwa perang jihad adalah perang membela tanah air dari ancaman kaum kolonialias yang berusaha mencengkeram negeri ini, walau secara de jure negara Republik Indonesia adalah bukan negara agama, namun majoritas penduduk negeri ini adalah muslim yang harus dilindungi dari kesewenangan kaum kolonial.

Dari uraian di atas tentunya bisa ditarik pelajaran berharga bahwa film Sang Kyai bisa dijadikan momentum untuk memupuk rasa nasionalisme segenap anak bangsa kini dan di masa mendatang dan juga bisa dijadikan hibroh atau acuan dalam memaknai istilh jihad dalam perjuangan keislaman. Namun itu semua tidak bisa diwujudkan tanpa usaha semua anak bangsa untuk meraihnya. Maka beberapa hal perlu kiranya diwujudkan, yakni kesatu mencantumkan perihal kontribusi yang sangat besar kaum sarungan dalam sejarah perjuangan bangsa, yakni perjuangan merintis, meraih dan mempertahankan kemerdekaan, utamanya saat Resolosi Jihad digelorakan, karena tanpa adanya resolusi jihad dari Hadratus Syaih KH. Hasyim Asya’ri tentunya pertempuraan hebat nan heroik di Surabaya yang kemudian kita kenal dengan peristiwa 10 Nopemberv1945 tidak akan terjadi. Karena Bung Tomo sebagai motor dan orator pembangkit semangat arek-arek Surabaya selalu meneriakan takbir tiga kali sebelum dan sesudah berpidato adalah buah resolusi jihad dari Hadratus Syaih KH. Hasyim Asy’ari.

Catatan sejarah tersebut harus diajarkan kepada anak-anak bangsa di bangku – bangku sekolah. Dengan demikian mereka bisa menghargai dan mencontohnya dalam perjalanan hidupnya demi kemajuan bangsa ini. Juga catatan sejarah perihal kontribusi besar kaum sarungan ini juga harus dihargai oleh segenap lapisan anak bangsa dengan menempatkan kaum sarungan sebagai pelaku sejarah bukan penonton sejarah.

Kedua menggelorakan dan mengajarkan kepada generasi kini dan mendatang bahwa jihad membela tanah air dalam segala bentuk adalah wajib bagi semua lapisan anak bangsa. Karena negara kesatuan Republik Indonesia sudah final. Dengan demikian rasa curiga antar anak bangsa karena masalah eksistensi dan kelangsungan ideologi bangsa tidak terjadi.

Ketiga mensoaialisasikan kepada anak bangsa yng kebetulan masih beridiologi radikal tentang pola pikir dan dasar jihad dan nasionalisme yang digagas oleh Hadratus Syaih KH. Hasyim Asy’ari. Karena dengan menjelaskan pemikiran beliau yang notabene seorang ulama besar yang disegani oleh ulama sepenjuru dunia tentunya akan memberi pengertian dan gambaran yang benar perihal nasionaliame dan jihad.

Dengan usaha-usaha seperti diusulkan di atas maka sekiranya diharapkan jiwa dan rasa nasionaliame seluruh anak bangsa kini dan di masa mendatang bisa ditingkatkan. Demikian juga pemikiran-pemikiran dan prilaku radikal dari beberapa kelompok anak bangsa bisa diredam. Dan akhirnya kita bisa kembali menegakkan kepala dipanggung dunia.

Semoga juga film Sang Kyai ini  memberi inspirasi kepada warga NU Tuban yang akan menggelar koferensi cabang sebentar lagi, sehingga program – program yang dihasilkan dan agenda-agenda yang akan diusung lima tahun ke depan bisa mengokohkan rasa nasionalisme dan jihad yang telah diajarkan oleh Hadratus Syaih KH. Hasyim Asya’ri. Dan tentunya bisa melahirkan pengurus – pengurus NU di Tuban yang cerdas dan berjiwa besar sebagaimana fanding father NU tersebut. (Tuban 09 Juni 2013).

*) Khozanah Hidayati, anggota dan sekretaris FPKB DPRD Tuban. Tulisan artikel ini juga dimuat di laman blokbojonegoro.com

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: