Ketika Politik Jadi Terkutuk

Oleh: Darmawan Sepriyossa

“La’natullah ‘alas siyasah,” sabda Nabi Muhammad SAW, suatu ketika. “Laknat Allah kepada politik.”

Mengapa Nabi bersabda seperti itu, sementara dari lisan beliau sendiri sebagaimana riwayat Abu Said al-Khudri, pernah keluar perkataan lain yang seolah bertolak belakang? “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubah dengan tangannya, sekiranya tidak mampu maka dengan lidahnya, sekiranya tidak mampu lagi maka dengan hatinya. Cara demikian (dengan hati) itu adalah selemah-lemahnya iman.”

‘Dengan tangan’, kerap dimaknai sebagai dengan kekuasaan. Dan kekuasaan, tentu saja bersangkut akrab dengan politik.

Bahkan saking perlunya kekuasaan untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, Imam Al Ghazali konon pernah berkata,” Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaanlah penjaganya. Sesuatu yang tidak berpondasi akan hancur, dan segala yang tidak memiliki penjaga pasti akan musnah.”

Jelas, perkataan itu bukan berarti Nabi menabukan politik dan menjadikannya hal yang harus dihindari. Yang menjadi persoalan, manakala politik yang dilaknat Allah dalam pernyataan Nabi itu barangkali politik yang telah menjadi realitas kita di hari-hari ini.

Politik yang dilaknat itu, barangkali politik yang alpa berlandaskan moral; yang diisi figur-figur haus kekuasaan tanpa pernah bertanya ke dalam hati untuk apa ia berkuasa. Politik yang hanya menitikberatkan perjuangan kepada usaha mengejar kursi kekuasaan. Politik yang dilaknat, barangkali adalah politik yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan alat untuk menegakkan kebenaran.

Sementara, kita tahu janji Tuhan menyatakan,”Kampung akhirat Kami sediakan buat orang-orang yang tidak haus kekuasaan (sewenang-wenang), serta tidak berbuat kejahatan di muka bumi…” (QS 28:83).

Manakala politik telah menjadi sedemikian rendah, komunikasi pun jadi sekadar serang-menyerang dan merendahkan. Membuka aib, mengubek borok. Semua bisa dibungkus dengan alasan bahwa publik tak layak memilih mereka yang penuh noda.

Politik, seharusnya sebuah gerak dan upaya untuk terus membuat semua orang secara adil lebih ‘manusia’. Sebuah perjuangan penuh gairah untuk membuat setiap diri menjadi rahmat bagi semua. Politik yang baik, sesungguhnya sebagaimana dinyatakan Alain Badiou sebagai sebuah upaya terus menerus dan penuh gairah untuk melawan kebekuan yang mencekik.

Politik, dengan kata lain adalah kerja melawan jumud. Melawan kekuatan anti-kemanusiaan.

Bila politik kita sudah berada dalam kondisi ‘amoral’ seperti itu, barangkali sudah saatnya membuka kalam Ilahi dan kata para ulama pewaris Nabi. Sebaliknya, hindari saja para ustaz, apalagi bila ia hanya produk massal budaya pop semisal televisi.

Menurut Abu’l Hassan Ali An-Nadwi, keadaan itu telah memecah kaum agama dan cendikiawan ke dalam beberapa kelompok. Pertama, kaum oposan yang membelot. Kedua, golongan apatis yang menarik diri dari medan politikm, menutup mata dan telinga dari perkembangan, hanya mengurus diri sendiri dan putus asa dari upaya perbaikan. Ketiga, kelompok yantg menyibukkan diri dengan melancarkan kritik dan desas-desus, tapi usaha mereka ini sama sekali tanpa arti. Keempat kaum kompromis yang gemar berkolaborasi, yang selalu bersedia dikooptasi.

Adakah golongan lain yang belum disebut dan relatif lebih baik? [dsy]

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: