Luangkan 5 Menit, Demi 5 Tahun Mendatang

Lima menit untuk lima tahun yang paling menentukan. Lima menit adalah waktu yang cukup digunakan untuk nyoblos pada pemilihan umum (Pemilu) calon legislatif (Caleg) pada April mendatang. Lima menit juga adalah waktu yang perlu dihabiskan untuk nyoblos pada Pemilu presiden Juni yang akan datang.

Lima menit untuk lima tahun yang paling menentukan. Maka kita harus melek fakta. Apa yang terjadi di sekitar kita. Bagaimana kondisi jelang “pesta demokrasi” yang sebentar lagi digelar. Kita harus tahu bahwa biaya nyaleg dan nyapres itu mahal. Para Caleg bisa menghabiskan sekitar ratusan juta bahkan miliaran Rupiah untuk bersaing memperebutkan kursi jabatan. Kalau ongkos jadi calon presiden lebih fantastis lagi. Bisa mencapai triliunan Rupiah.

Koordinator Balitbang DPP Partai Golkar Indra J. Piliang menyebutkan untuk menjadi calon presiden dibutuhkan dana sekitar 3 triliun. Pengamat lainnya mengatakan dananya bisa lebih dari itu. Dana sebesar itu untuk kebutuhan kampanye melalui berbagai sarana seperti mengunjungi masyarakat, memasang poster dan baliho, membagikan sembako kepada masyarakat serta beriklan di TV.

Kabarnya dana untuk iklan di TV paling mahal, namun paling efektif mengenalkan diri ke masyarakat karena dapat menjangkau seluruh lapisan. Sehingga para calon berduit menjadikannya pilihan favorit. Salah satunya Capres dari Hanura yang mengaku beriklan selama 30 detik di lima stasiun televisi seharga 60 juta rupiah per satu stasiun televisi dengan 10 kali tayang setiap harinya.

Lima menit untuk lima tahun yang paling menentukan. Kita harus berpikir tentang efek pesta demokrasi berbiaya mahal. Para calon presiden misalnya tidak mungkin mengeluarkan biaya triliunan Rupiah dari kantong pribadi sendiri. Sebab berdasarkan laporan kekayaan pejabat negara, tidak ada Capres yang beredar saat ini memiliki kekayaan sebesar itu. Paling hanya milaran.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia Donny Tjahja Rimbawan juga meyakini bahwa tak ada satupun pasangan Capres-Cawapres yang sanggup membiayai kampanyenya sendiri. Andaipun ada, sangat mungkin mereka tidak rela uang sebesar itu hilang begitu saja jika mereka kalah. Beban itulah yang dipikul bersama di dalam partai untuk menggalang dana yang dibutuhkan. Darimana partai dapat mengumpulkan dana? Kasus-kasus korupsi dan gratifikasi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah bisa menjawabnya. Selain itu kebijakan pemerintah yang selama ini memihak pengusaha, mengindikasikan bahwa penguasa memiliki hubungan erat dengan mereka. Sehingga banyak kalangan berpendapat Capres berpotensi besar menerima ‘dana siluman’ dari para konglomerat yang biasanya berpirnsip tidak ada makan siang gratis.

Lima menit untuk lima tahun yang paling menentukan. Kita tidak boleh menutup mata dari keadaan. Bahwa mendekati hari “H” Pemilu, semakin bermunculan para Caleg yang melakukan ritual keramat, seperti mendatangi makam keramat, ritual “menyembah” pohon dan bertapa di air. Menyewa jasa paranormal, dukun dan ahli spiritual juga dilakukan. Ini biasanya dilakukan mereka yang kepercayaan dirinya lemah. Ongkos besar yang terlanjur dikeluarkan saat kampanye, ditambah persaingan sangat ketat sehingga kemungkinan terpilih kecil membuat para Caleg tidak lagi berpikir rasional. Hitung-hitungan yang ada, kursi yang tersedia untuk tingkat DPR dan DPRD secara nasional berjumlah sekitar 20 ribuan kursi. Sementara yang bersaing sekitar 200 ribu Caleg. Artinya, hanya 10 persen Caleg yang akan berhasill sedangkan 180 ribu Caleg atau 90 persen dipastikan gagal.

Kondisi demikian juga mendorong sejumlah rumah sakit dan rumah sakit jiwa bersiap menyambut kalau para Caleg mengalami depresi berat akibat gagal dalam pertarungan. Di antara yang sudah bersiap ialah RSJKO Provinsi Bengkulu, RSJ Emaldi Bahar Palembang, RSJ Tampan Pekan Baru, RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta, RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, RSU Kota Banjar Jabar dan lain sebagainya. Persiapan ini berdasarkan pengalaman pada pemilu 2004 dan 2009 lalu.

Menurut data Kemenkes, pada Pemilu 2009, ada 7. 736 Caleg yang mengalami gangguan jiwa berat alias gila. Sebanyak 49 Caleg DPR, 496 orang Caleg DPRD provinsi, 4 Caleg DPD dan 6. 827 orang Caleg DPRD kabupaten/kota. Menurut dr. Teddy Hidayat, psikiater yang juga Ketua Penanggulangan Narkoba RS Hasan Sadikin Bandung, prediksi Caleg stress akan mencapai 30 persen baik yang terpilih maupun yang gagal.

Lima menit untuk lima tahun yang paling menentukan. Mari berpikir tentang hakikat demokrasi. Bahwa sesungguhnya mekanisme Pemilu ala demokrasilah penyebab kerusakan yang ada. Demokrasi menghasilkan pejabat yang “gila” harta ketika sampai di bangku jabatan. Demokrasi pula menjadikan calon pejabat mengalami gangguan jiwa karena perjuangan memperoleh jabatan kandas di tengah jalan. Demokrasi berbasis sekulerisme ini telah memosisikan uang bak dewa.

Sehingga uang penentu seseorang memperoleh jabatan. Uang pula yang ingin dinikmati ketika memegang jabatan. Demokrasi telah cacat sejak lahirnya karena membebaskan manusia untuk tidak saja memilih pemimpinnya, tetapi juga menjadikan manusia sebagai sumber pembuat aturan.

Lima menit untuk lima tahun yang paling menentukan. Sebelum menentukan pilihan, pikirkan siapa diri kita. Kita hanya hamba Allah SWT yang lemah. Yang selalu bergantung pada nikmatNya. Allah SWT telah memberikan Islam yang sempurna sebagai sistem kehidupan kita. Islam mengajarkan cara memilih pemimpin yang tidak memerlukan biaya tinggi. Karena syarat menjadi pemimpin dalam Islam sangat berat. Dia haruslah orang yang mampu secara kualitas intelektual dan keimanan. Serta harus adil dengan tolak ukur syariat Islam.

Jika pakai standar Islam, dengan konsekuensi memegang amanah yang besar tidak akan banyak yang mencalonkan diri jadi pemimpin. Tidak perlu bersaing dengan mengandalkan uang karena kualitas diri yang menentukan kelayakan menjadi pemimpin.

Lima menit untuk lima tahun yang paling menentukan. Mari menghindarkan diri dari bertindak asal-asalan. Tentukan pilihan setelah berpikir maksimal. Karena pilihan yang dilakukan akan sangat menentukan masa depan. Wallahu a’alam bishawab. (Dikutip dari Oleh Eva Arlini, SE)

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: