Kartini: Perempuan di Balik Pergerakan Kebangsaan

135 Tahun Kartini
ASATUNEWS – Senin ini, 21 April 2014, usia Kartini seandainya masih hidup adalah 135 tahun. Karena, perempuan hebat ini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah.

Sayangnya, sampai hari ini masih saja banyak yang mereduksi kehebatan Kartini sebatas pejuang emansipasi perempuan. Tak banyak yang tahu, pergerakan kebangsaan dan kebangkitan nasional Indonesia banyak dipengaruhi ide-ide Kartini.

Seperti kita ketahui, di tengah kekuasaan penjajah Belanda yang sangat mengekang, sebagian pemuda di tanah Jawa berkumpul untuk membentuk satu wadah organisasi pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo, untuk bersama-sama membantu masyarakat yang sedang ditindas penjajahan sekaligus berniat mengusir kaum penjajah dari negeri ini. Tentu saja, dalam konteks zamannya, pendirian Boedi Oetomo itu merupakan hal yang luar biasa. Tak mengherankan jika Mr C Th van Deventer, penggagas politik etis pada masa Hindia Belanda, mengungkapkan ketakjubkannya ketika mengetahui deklarasi kelahiran Boedi Oetomo. ”Suatu keajaiban telah terjadi, Insulinde, putri cantik yang tidur itu, telah terbangun,” tulis Deventer dalam majalah De Gidds.

Dari sanalah mengalir ide menjadikan setiap tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Apalagi, setelah itu muncul organisasi-organisasi pemuda serupa di berbagai daerah lain di wilayah Nusantara, yang kelak pada 28 Oktober 1928 berkumpul untuk mengangkat sumpah bahwa tanah air mereka adalah Indonesia; bahwa mereka adalah satu bangsa, bangsa Indonesia, dan; mereka bertekad menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia—tanpa menafikan kehadiran bahasa-bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.

Jadi, meskipun Boedi Oetomo merupakan organisasi orang Jawa yang cenderung membatasi diri pada ”nasionalisme Jawa”—karena otak intelektual di belakangnya adalah aktivis senior kebangkitan Jawa, Wahidin Soedirohoesodo—kelahirannya merupakan bagian dari proses kebangkitan nasional, seperti diungkap Manuel Kaisiepo dalam buku 1.000 Tahun Nusantara. Namun, tak banyak orang yang tahu, beberapa tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo dan gagasan-gagasan tentang kebangsaan Jawa muncul dari tokoh-tokohnya—terutama dari Soetomo dan Wahidin Soedirohoesodo—Kartini telah mengungkapkan gagasannya tentang kebangsaan, sebagaimana dipaparkan Dr Dri Arbaningsih dalam buku Kartini dari Sisi Lain: Melacak Pemikiran Kartini tentang Emansipasi ”Bangsa”.

Bangsa yang dimaksud Kartini ketika itu, kata Dri, adalah pengertian rasa berbangsa orang Jawa sebagai rakyat yang memiliki bahasa, wilayah, dan budaya. Jadi, Jawa dalam pengertian ini bukan sebatas pada pemahaman sebagai rakyat tanpa identitas.

Pada tahun 1903, misalnya, Kartini telah menggunakan istilah nasion, yang membuat banyak pelajar Stovia (Sekolah Dokter Pribumi) terbakar semangat nasionalismenya. Para pelajar Stovia ini juga bersama Kartini dan Roekmini (adik Kartini) secara informal membentuk komunitas Jong Java. ”Dalam suratnya kepada seorang pelajar Stovia, Kartini mengingatkan bahwa mereka adalah Jong Java, bangsa Jawa, yang berkewajiban mencerdaskan rakyat yang miskin dan bodoh agar mampu setara dengan Belanda. Tanpa kesepakatan dengan para pelajar Stovia bahwa sesungguhnya mereka adalah Jong Java, dengan segala kewajibannya itu, barangkali tidak akan pernah ada Boedi Oetomo pada tahun 1928, Sarekat Islam pada tahun 1911, Perhimpunan Indonesia pada 1922, Sumpah Pemuda pada tahun 1928, partai-partai dan organisai pemuda-pemudi, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, dan Deklarasi Djuanda pada tahun 1982 tentang batas wilayah laut Nusantara,” ungkap Dri.

Persepsi yang melenceng terhadap Kartini kemungkinan besar terjadi karena orang-orang hanya mengenal sosok Kartini dari buku kumpulan surat-surat Kartini yang terkumpul di tangan Mr JH Abendanon, Direktur Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan Pemerintah Otonomi Hindia-Belanda (1900-1905), Door Duisternis tot Licht, yang terbit pada April 1911, tujuh tahun setelah Kartini wafat. Dri Arbaningsih menduga, buku itu merupakan upaya pengalihan perhatian orang dari inti pemikiran dan perjuangan Kartini mengenai kebangkitan Jawa sebagai suatu nasion, bangsa, melalui pendidikan nalar dan akhlak.

“Puncak karya pikir Kartini tertuang pada sebuah nota yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan Seberang Lautan Kerajaan Belanda, yang intinya adalah meminta kepada Kerajaan Belanda untuk memberikan pendidikan bagi bangsa Jawa, dimulai dari pendidikan bagi para bangsawan dan para perempuan bangsawan. Ia juga mengimbau didirikan selain sekolah kepandaian putri, tapi juga sekolah bagi para pamong praja dan jaksa bumiputra serta menyarankan agar obat-obatan tradisional diperkenalkan oleh para dokter Jawa,” papar Dri.

Soal Kartini yang tidak hanya bergelut dalam masalah-masalah domestik juga pernah ditulis oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Panggil Aku Kartini Saja (1962). Dalam buku itu diperlihatkan bagaimana kiprah dan pemikiran Kartini tentang banyak hal, termasuk buku-buku asing yang dibaca oleh Kartini. Menurut Pram, pada Kartini justru tak ada tanda-tanda provinsialisme. “Buat pekerjaan bersama mengangkat derajat rakyat Hindia Belanda, ia (Kartini) pandang setiap orang pribumi yang terpelajar, yang tidak lenyap ditelan alam leluhurnya atau lebur menjadi Belanda cokelat, adalah sejawat-sejawat yang harus bergandengan tangan, bantu membantu, dan isi-mengisi,” tulis Pram dalam buku tersebut.

Ini terbukti antara lain dari penghargaan Kartini terhadap Abdul Rivai, dokter Jawa lulusan 1894 yang berasal dari Sumatera Barat. Kartini kagum karena Rivai rela melepas semua jabatannya di Hindia Belanda untuk meneruskan pelajaran di Belanda, tapi ketika akan menempuh ujian tidak diperbolehkan oleh Menteri Dalam Negeri Belanda. ”Oh, sekiranya kami dapat mengadakan kontak dengan pemuda-pemuda kami yang beradab dan maju, seperti Abdul Rivai, dan lain-lain…,” tulis Kartini dalam salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon.

Bahkan, Kartini yang telah menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda kemudian tidak mempergunakan kesempatan itu. Ia malah memohon agar beasiswa itu diserahkan kepada Agus Salim, pemuda kelahiran Sumatera Barat, yang ketika itu Kartini kira berasal dari Riau. Kartini pun menulis surat kepada Nyonya Abendanon pada 29 November 1901, yang ia harapkan diteruskan kepada suaminya, Mr JH Abendanon, Direktur Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan Pemerintah Otonomi Hindia-Belanda. Demikian tulis Kartini.

Pemuda itu bernama Salim, seorang Sumatra dari Riau, yang tahun ini lulus ujian HBS dan no. 1 dari ketiga-tiga HBS yang ada. Pemuda ini ingin sekali pergi ke Holland buat meneruskan pelajaran jadi dokter, sayang keuangannya tidak mengizinkan. Ayahnya hanya bergaji f150.

Kalau perlu mau dia menjadi kelasi, asal bisa ke Holland saja.

Tanyailah Hasim tentang dia, karena dia pernah mendengar pidatonya di Stovia. Pemuda itu adalah seorang yang pandai, berani, yang patut sekali dibantu.

Waktu kami dengar tentang dirinya dan tentang angan-angannya timbullah hasrat besar dalam hati kami untuk memudahkan dia. Maka teringatlah kami pada keputusan pemerintah tertanggal 7 Juli 1903—keputusan yang sangat kami harap-harapkan tetapi yang dengan berduka-cita kami terima.

Haruskah buah kerja kawan-kawan yang mulia, harapan-harapan kami, doa dan hasrat kami, mesti lenyap tanpa guna?

Tak mungkinkah orang menggunakannya? Pemerintah menyediakan bagi kami f4.800 buat menyelesaikan pelajaran kami; tidakkah itu bisa diberikan kepada orang lain, yang barangkali lebih dari kami, tetapi sudah pasti tidak bakal kurang daripada kami selayaknya mendapat bantuan? | DJE/ASN-010

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: