Jokowi X Jokuwi

Oleh : Dhimam Abror Djuraid

Di jagat kesenian ketoprak ada nama-nama pelawak yang khas dan lucu, seperti Joleno, Jogelo, Jorono, Jolewo, dan Joisin. Nama-nama yang rada kurang lazim ini adalah nama-nama pelawak khas ciptaan grup ketoprak “Siswo Budoyo”, sebuah kelompok ketoprak pioneer asal Tulungagung, Jawa Timur, yang tetap menjaga eksistensi sampai sekarang.

Nama-nama itu bukan nama kosong belaka. Mungkin ada satire di dalamnya, ada sindiran, dan nasihat petitah-petitih. Ke semua nama itu merupakan singkatan. Joleno berarti “ojo leno” alias jangan terlena. Jogelo artinya “ojo gelo”, jangan kecewa. Jorono, (ojo rono), jangan ke sana. Jolewo (ojo lewo), jangan macam-macam, dan Joisin (ojo isin), jangan malu (atau, mungkin maksudnya, jangan malu-maluin).

Mendengar nama-nama ciptaan yang khas dan kreatif ini kita bisa tersenyum sendiri. Lawakan-lawakan mereka juga sudah sangat dikenal mampu membuat terpingkal-pingkal. Mereka menjadi idola di lingkungannya pada zamannya.

Ketoprak dan politik tidak ada kaitannya. Tetapi, kadang dua-duanya bisa memunculkan kesamaan. Paling tidak, lakon ketoprak sering memunculkan tragedi, dan politik tentu juga demikian. Lawakan ketoprak bisa bikin perut mules karena tertawa terpingkal-pingkal. Parodi politik sering juga membawa kita tertawa geli.

Di jagat perpolitikan nasional sekarang nama Jokowi tengah menjadi idola. Melesat bak meteor, Jokowi menarik minat pengagum di seantero Indonesia. Bersamaan dengan itu muncul juga penentang-penentang Jokowi yang, bisa ditebak, datang dari kekuatan politik yang memusuhinya. Lalu muncullah fenomena ketoprak dalam politik kita. “Ketoprakisasi politik” begitu, mungkin, istilah kerennya.

Kalau kita nisbatkan kepada para pelawak ala Siswo Budoyo itu sekarang, bisa muncul tokoh pelawak bernama “Jokuwi” alias “ojo kuwi” atawa “jangan yang itu”. Jokowi vs Jokuwi. Itulah lakon politik nasional sekarang ini.

Jokowi adalah fenomena yang, kelihatannya, sulit terbendung. Tapi, lawan-lawan politiknya mengerahkan segenap daya upaya untuk menghentikan Jokowi dengan segala cara. Yang penting asal bukan Jokowi. Yang penting Jokuwi!

Kelompok yang mengkampanyekan Jokuwi bukan hanya datang dari kalangan luar partai Jokowi. Bahkan, dari internal partainya Jokowi sendiri arus gerakan Jokuwi cukup deras dan gencar.

Di dalam jagat politik kita ada adagium mengatakan bahwa untuk memenangkan sebuah kontes politik diperlukan “Tiga Tangan”. Yang pertama adalah “garis tangan”. Anda harus percaya bahwa memenangkan kontes politik, mulai dari pileg lokal sampai pilpres, adalah sebuah takdir. Ada “divine intervention” campur tangan ilahi di sana.

Yang kedua adalah “campur tangan”. Tentu, Anda tidak bisa memenangi kontes itu sendirian. Apalagi setingkat pilpres, Anda butuh campur tangan orang lain, bantuan orang lain, terutama kalau suara partai Anda tidak cukup. Itulah sebabnya sekarang orang begitu heboh bernegosiasi soal koalisi. Satu sama lain harus saling campur tangan untuk bisa memenangi kontestasi besar ini.

Dan, tangan terakhir yang tidak kalah penting adalah “tanda tangan”. Ini bisa melibatkan otoritas kekuasaan atau (ini sangat krusial) otoritas finansial. Tanda tangan seorang pemimpin partai mutlak diperlukan. Dan, yang tidak kalah penting adalah tanda tangan di atas buku cek untuk mendukung pertarungan Anda. Tanpa “tanda tangan” Anda lebih baik minggir daripada mogok di tengah jalan.

Hiruk pikuk mencari koalisi yang ramai hari-hari ini tidak lepas dari “tiga tangan” itu. Si Jokowi, yang disebut-sebut sebagai paling unggul pun, masih panik mencari “tiga tangan” itu untuk memastikan nasibnya.

Dari perspektif yang lain, masih ada tiga “magic words” lagi yang bisa menjadi penentu nasib politik seseorang. Ketiganya adalah “nasib”, “nasab”, dan “nisab”.

Yang pertama adalah “nasib”. Ini mirip dengan konsep “garis tangan”. Artinya, Anda boleh mengupayakan apa saja, Anda boleh kepingin menjadi anggota dewan atau menjadi presiden. Anda boleh membeli lembaga poling untuk merekayasa hasil survei. Anda boleh pergi ke dukun politik yang paling ampuh. Tapi, pada akhirnya “nasib” yang menentukan Anda akan berhasil atau tidak. Itulah takdir Anda.

Yang kedua adalah “nasab”, alias garis keturunan. Ini bisa diartikan sebagai rekam jejak seseorang alias track record dalam kehidupan sosial-politik dan personal. Nasab bisa juga diartikan harfiah dalam artian garis keturunan dalam keluarga. Belakangan ini sedang ramai berkembang isu mengenai politik dinasti. Anak, bapak, suami, istri, ibu, keponakan, paman, kakek, semuanya ramai-ramai masuk ke politik. Ini yang disebut sebagai dinasti. Ini yang sekarang ramai dikecam.

Tapi, diam-diam, politik dinasti malah berusaha dilanggengkan. Klan Soekarno adalah contohnya. Sampai sekarang tidak ada satupun klan yang bisa menandingi keampuhan klan Soekarno dalam politik nasional. Kalau seseorang membawa nama Soekarno di belakang namanya, ia dipastikan punya modal politik hebat untuk menang.

Seorang bernama Guruh bisa memenangkan kontestasi DPRI-RI berkali-kali dari dapil Jawa Timur hanya karena ada tempelan nama Soekarno di belakang namanya. Ia tidak terlihat sekali pun berdiri di depan khalayak untuk berkampanye. Ia, bahkan, tidak memasang selembar gambar pun untuk memenangkan kontestasi yang bagi kebanyakan politisi dianggap berdarah-darah itu. Tentu, kita juga tidak tahu apa yang dilakukannya untuk konstituennya di Jawa Timur selama lima tahun ini. Bahkan, kita juga tidak pernah mendengar dia melakukan sesuatu selama menjadi anggota dewan. Tetapi, itulah dahsyatnya nasab.

Pada sisi lain, alasan “nasab” ini jugalah yang dijadikan pegangan bagi kelompok Jokuwi yang menentang Jokowi. Rekam jejak politik Jokowi belum cukup meyakinkan untuk menjadi seorang presiden. Ia dianggap masih terlalu hijau. Ia dianggap belum membuktikan apapun.

Lebih-lebih lagi, Jokowi dikhawatirkan akan menghilangkan nasab Soekarno dalam politik nasional. Kalau Jokowi berhasil menjadi presiden, klan Soekarno dikhawatirkan akan meredup dan bahkan hilang dari kancah politik nasional. Karena itu, gerakan “Jokuwi” cukup kencang juga dari kalangan internal partainya sendiri yang menghendaki nasab Soekarno untuk tetap maju dalam kontestasi presiden tahun ini.

Magic word yang ketiga adalah “nisab”. Ini menyangkut kemampuan dukungan finansial. Dalam terminologi Islam nisab adalah jumlah kekayaan tertentu dari seseorang untuk diwajibkan membayar zakat.

Tentu ini sangat konotatif. Para skeptis mengatakan tidak ada kontestasi politik yang bisa dimenangkan tanpa nisab. Hal ini bahkan sudah menjadi semacam kelaziman di mana-mana.

Apa yang terjadi di pemilu legislatif tahun ini bisa menjadi saksi lagi bagaimana “nisab” benar-benar memainkan peran penting. Berbagai jargon muncul di tengah masyarakat. Ungkapan “wani piro” sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sebuah deal politik.

Ada juga yang memakai istilah pajak “NPWP” untuk deal politik. Sebagaimana pajak yang selalu mencekik, NPWP politik ini juga mencekik. NPWP politik ini singkatan dari “nomer piro wani piro” (nomor berapa, berani berapa); Anda ada di nomor caleg berapa dan berani bayar berapa. Konotasinya menjadi lengkap.

Untuk bisa mendapatkan nomor urut berapa di sebuah partai Anda harus “wani piro”. Lalu, untuk bisa mendapatkan suara pemilih, Anda juga ditantang “wani piro”. Kalau tidak ada “wani piro” orang lebih memilih golput alias golongan putih. Tapi, ada golput lain yang tidak kalah pragmatis. Itulah “Golongan Pencari Uang Tunai” (golput) yang sengaja menunggu serangan fajar dalam bentuk uang tunai untuk memberikan suaranya.

Dan, masih ada lagi kelompok yang tidak “NPWP” dan tidak “Golput”. Kelompok ini tidak bertransaksi, tidak meminta deal politik. Tapi, untuk mendapatkan suara mereka tetap tidak bisa gratisan. Kelompok ini menyebut dirinya “Waspada” alias “Walau Sedikit yang Penting Ada”…..

Jadi, seperti ungkapan Inggris “tidak ada makan siang gratis di dunia”, dalam jagat politik Indonesia jelas tidak ada suara yang gratis. Lalu, mau dibawa ke mana negeri kita ini? [ror]

Penulis adalah wartawan senior dan mantan pemimpin redaksi sejumlah media cetak di Surabaya

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: