“Mi’raj” Nabi, “Mi’raj” Kita

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

ADA dua peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Muhammad yang patut dipikirkan kembali oleh pengikutnya. Pertama, peristiwa ketika Nabi menyingkir dari keriuhrendahan kehidupan ramai di Mekkah, lalu bersamadi atau takhannuts di Goa Hira selama sekitar tiga bulan. Di ujung samadinya, Nabi menerima wahyu dari Allah hingga 23 tahun sesudahnya. Wahyu itu lalu dikumpulkan menjadi sebuah mushaf, dan dikenal sebagai Quran. Itulah kitab suci yang menjadi pegangan hidup umat Islam sepanjang zaman. Peristiwa kedua adalah Isra’ dan Mi’raj. Isra’, perjalanan Nabi di malam hari dari Mekkah hingga ke Jerusalem. Mi’raj, perjalanan lanjutan dari Jerusalem menuju ke langit tujuh, diteruskan ke suatu puncak yang disebut Sidratul Muntaha. Konon, pada saat itulah Nabi bertemu Allah, dan menerima ajaran tentang shalat lima waktu.
Peristiwa takhannuts atau samadinya Nabi amat penting, karena menandai dimulainya suatu karya kenabian pertama. Tugas utama kenabian yang dipikul Nabi adalah melakukan transformasi masyarakat menuju cita ideal yang dikehendaki Allah. Karier kenabian yang ditempuh Nabi selama 23 tahun sebetulnya dimulai dengan suatu tindakan soliter yang sepi dan terpisah dari riuh rendah kehidupan masyarakat ramai, yaitu renungan dan samadi.

Setiap tindakan besar yang hendak mengubah dan membentuk dunia sulit terjadi jika tidak ada seorang “agen” atau individu yang sadar dengan dua kemampuan sekaligus. Pertama, kemampuan untuk melakukan detachment atau penjarakan terhadap kenyataan yang konkret. Dengan mengambil jarak atas kenyataan itu, seorang “agen” akan mampu melihat dunia dengan seluruh kekurangan, kelebihan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Dunia tidak bisa diubah dan ditransformasikan menuju kemungkinan yang lebih baik, jika seorang “agen” tenggelam sepenuhnya dalam kepenuhan dunia itu sendiri. Kedua, kemampuan untuk re-attachment, atau terlibat kembali, setelah momen penjarakan dilakukan beberapa saat. Momen pengambilan jarak atau -dalam kasus Nabi, takhannuts- hanyalah situasi sementara agar seorang “agen” bisa berada di “luar” dunia. Momen terpenting justru, berada kembali di “dalam” dunia untuk mengubah dan mentransformasikannya sesuai “gambar” yang dikehendaki seorang agen.
Pembawa pesan
Peristiwa Mi’raj menandai hal yang lain lagi. Nabi adalah seorang messenger atau pembawa pesan. Kedudukan sebagai pembawa pesan ini bukan sesuatu yang unik pada Nabi sendiri. Setiap orang Islam adalah messenger atau penerus pesan yang telah disampaikan oleh Nabi. Setiap orang Islam adalah “nabi-nabi” kecil yang mendapat pekabaran dari Langit, dari Allah, via Nabi, lalu menyampaikannya kepada orang-orang lain.
Nabi berasal dari akar kata naba, berarti khabar atau berita. Nabi artinya orang yang mendapat kabar atau berita. Dunia dan kehidupan manusia diubah melalui kabar, berita, firman yang datang dari Tuhan. Sudah tentu, firman tidak bisa mengubah dunia secara langsung. Firman bisa mengubah dunia melalui perantaraan seorang “agen” yang mampu memahami dan “menjawab” panggilan firman itu. Dengan kata lain, untuk mengubah dunia, Allah membutuhkan seorang manusia yang mampu memahami pesan-pesan-Nya.
Mi’raj berasal dari akar kata uruj, berarti naik atau berada di atas dan “melampaui” sesuatu yang ada di bawah. Mungkin, uruj bisa disepadankan dengan aufhebung dalam filsafat Hegel: yaitu kondisi di mana tahap-tahap perkembangan yang lebih rendah dapat dilampaui karena adanya sintesis baru yang lebih baik dan berasal dari keadaan-keadaan sebelumnya. Mi’raj adalah tindakan Nabi di mana ia mampu melampaui situasi-situasi material dalam kehidupan duniawi, lalu “naik” untuk “manunggal” dengan Kenyataan yang Benar (al haqq). Orang yang beriman tidaklah sempurna keimanannya jika hanya berhenti menjadi-meminjam bahasa pemikir besar Iran, Ali Syari’ati-basyar atau manusia sebagai jasad dan badan, tetapi tidak mampu naik lebih jauh lagi menjadi “insan” atau manusia sebagai “roh” yang sadar dan bergerak ke arah kemungkinan-kemungkinan yang baik. Mi’raj menandai keadaan di mana Nabi menjadi “insan” sepenuh-penuhnya, karena saat itulah dia bertemu dengan Sumber Kebenaran yang Murni, yakni Allah.
Apakah mi’raj adalah sesuatu yang hanya bisa dialami dan terjadi pada Nabi? Tidak ada sesuatu pada Nabi yang sebegitu unik, sehingga tidak bisa “diduplikasi” atau ditiru umatnya. Sebab, pada hakikatnya, kedudukan sebagai messenger, Nabi atau pembawa kabar adalah kedudukan yang tidak saja ada pada Nabi, tetapi juga ada pada setiap orang beriman. Saya termasuk orang yang berpendapat, Isra dan Mi’raj bukan sesuatu yang dialami Nabi secara fisik. Mi’raj adalah semacam “stasis” atau keadaan kejiwaan yang dalam tradisi mistik Islam mempunyai jenjang-jenjang atau maqamat dan ahwal. Mi’raj adalah suatu keadaan kejiwaan di mana Nabi mengalami semacam “kemanunggalan” dengan Allah, begitu dekat dengan-Nya. Setiap orang Islam bisa dan bahkan dianjurkan mengalami mi’raj. Nabi sendiri pernah bersabda, “Ash shalatu mi’rajul mu’minin”, shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Shalat yang benar-benar shalat adalah ritual yang menjadi sarana bagi orang beriman untuk “naik” melampaui keadaan-keadaan material dan duniawi yang mengungkungnya, untuk kemudian “kembali” kepada Sumber Roh, Kebenaran Murni, yaitu Allah.
Jika pengertian mi’raj hendak diduniawikan, atau disekulerkan, maka kata itu berarti bisa dimaknai sebagai kemampuan untuk “melampaui batas”, transendensi. Seorang manusia sebagai basyar, sebagai jasad, adalah hanya seorang agen dengan kemampuan rohaniah yang begitu rendah, sehingga tidak mampu melakukan takhannuts atau penjarakan terhadap situasi-situasi material yang mengungkungnya. Sebaliknya manusia sebagai “insan” adalah seorang agen dengan kemampuan rohaniah yang tinggi sehingga bisa melampaui, atau mi’raj, batas-batas material dalam kehidupan duniawi. Hendaknya setiap orang beriman dapat mengalami mi’raj itu, sehingga mampu melampaui pengkotakan-kotakan yang tercipta karena situasi kehidupan nyata, dan mencapai esensi kebenaran yang melampaui kotak-kotak itu.
Jika dimaknai secara lebih radikal lagi, mi’raj juga berarti kemampuan untuk memahami esensi dan semangat Islam melampaui ketentuan-ketentuan yang tertulis secara harafiah dalam Kitab Suci atau bahkan ucapan-ucapan Nabi sendiri. “Menjadi Islam” tidak cukup sekadar mengikuti secara benar dan literal semua yang tertulis dalam agama, tetapi juga menembus tulisan dan huruf-huruf dalam ajaran agama itu hingga ke inti. Menjadi Islam adalah persis seperti yang digambarkan dalam ayat ketiga surah Al Baqarah, “alladzina yu’minuna bil ghaibi”, orang-orang beriman adalah mereka yang percaya pada esensi sesuatu yang tersembunyi di balik penampakan lahiriah. Orang beriman tidaklah memadai imannya jika masih terkungkung oleh huruf-huruf ajaran, tetapi tidak mi’raj atau tembus ke inti ajaran agama itu sendiri.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi umat Islam sekarang ini adalah makin populer dan kuatnya pandangan-pandangan keislaman yang literal, yang harafiah. Pandangan ini berkembang justru mewakili suatu kehendak umat Islam untuk mencari “identitas” sebagai Muslim yang unik, di tengah serbuan globalisasi yang hendak melampaui “identitas-identitas sempit”. Kecenderungan keislam yang demikian jelas berlawanan dengan semangat mi’raj itu sendiri.
Setiap Muslim pantas membangun suatu identitas khusus dengan “kembali” kepada ketentuan-ketentuan dalam Islam sendiri. Namun, identitas kemusliman tidak bisa dibangun secara terisolasi dari identitas-identitas lain yang lebih luas, yaitu identitas kemanusiaan universal yang tidak mengenal batas-batas agama, suku, budaya, atau batas-batas artifisial lain yang biasanya muncul sebagai kemestian kehidupan duniawi yang nyata. Kehendak membangun identitas kemusliman yang seolah terpisah sama sekali dari common denominator kemanusiaan yang umum justru membawa akibat negatif terhadap Islam itu sendiri. Islam datang tidak untuk menegakkan “benteng” yang memisahkan orang Islam dari manusia-manusia lain yang kebetulan terperangkap dalam kotak-kotak yang lain pula.
Islam memang suatu identitas. Tetapi setiap orang Islam hendaknya mampu melakukan mi’raj, atau menembus identitas terbatas itu untuk dapat merengkuh identitas lebih luas, yaitu identitas sebagai “insan” atau manusia yang dicipta menurut gambar Tuhan. Islam datang justru untuk “memfasilitasi” setiap orang beriman untuk berjumpa (dalam pengertian encounter) dengan manusia-manusia lain, bukan untuk memisahkan mereka dari kemanusiaan universal.
Mi’raj, dengan demikian bukan saja mi’raj Nabi, tetapi juga mi’raj kita semua.

* Ulil Abshar-Abdalla, ketua Lakpesdam-NU, Jakarta.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: