Ayo Memanen Hujan!

Oleh : Khozanah Hidayati
(Anggota Komisi D DPRD Jatim, Fraksi PKB)

Belakangan ini baik kabupaten Tuban maupun kabupaten Bojonegoro kerap ditimpa musibah banjir bandang di saat puncak musim hujan. Untuk daerah Tuban seperti di kecamatan Merakurak, Montong, Kerek, Grabagan, Semanding, Rengel, Soko, Plumpang dan kota Tuban. Untuk daerah Bojonegoro seperti daerah di kecamatan Kasiman, Malo, Kedewan, Temayang, Gondang dan Bubulan.

Dari segi klimatologis, wilayah kabupaten Tuban maupun kabupaten Bojonegoro memiliki curah hujan cukup besar. Namun, tingginya laju pertambahan penduduk dan kurangnya kesadaran akan kelestarian lingkungan dari masyarakat yang menyebabkan rusaknya hutan dan eksploitasi besar-besaran yang tidak terkendali akan gunung kapur Kendeng menyebabkan wilayah yang secara alamiah tidak kekurangan air ini mengalami persoalan sumber daya air. Akhirnya terjadilah banjir di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau. Atau istilah jawanya nek ketigo gak iso cewok namun nek rendeng gak iso dodok.

Persoalan sumber daya air ini baik saat kemarau kekurangan dan saat musim penghujan kebanjiraan, tidak hanya menyulitkan penduduk di daerah pedesaan, tetapi juga daerah perkotaan. Baik yang tinggal daerah pegunungan maupun yang berada di daerah dataran rendah. Oleh karena itu, selain penanggulangan secara makro dengan memperbaiki kembali lingkungan yang rusak dan menyeluruh serta juga menyadarkan masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup, perlu upaya mikro jangka pendek dan menengah yang bisa membantu masyarakat mengatasi kelangkaan sumber daya air ini saat kemarau maupun kebanjiran saat musim penghujan.

Salah satu alternatif yang coba penulis tawarkan adalah pemanenan air hujan atau istilahnya rain water harvesting. Selain membantu penyediaan air bagi kelompok masyarakat marjinal perkotaan maupun kelompok masyarakat pedesaan yang tidak terjangkau oleh pelayanan air minum PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), terutama pada musim kemarau, jalan keluar ini tentunya juga diharapkan bisa mengurangi risiko terjadinya banjir maupun banjir bandang.

Pemanenan air hujan yang disertai pembuatan sumur resapan atau metode-metode lain adalah upaya pemanenan air yang sangat ampuh. Namun, agar pemanenan air bisa menghasilkan yang signifikan dan bisa mengurangi banjir atau banjir bandang maka perlulah dilakukan secara missal. Atau dengan kata lain harus menjadi gerakan massal pemanenan air hujan.

Agar gerakan missal ini berhasil maka kerja massal ini perlu melibatkan otoritas kekuasaan dalam hal ini Pemkab, para pegiat LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Perguruan Tinggi, dan juga para ulama atau tokoh masyarakat dan tokoh agama dengan dukungan informasi dari media massa.

Istilah memanen air hujan ini di dunia internasional menjadi bagian penting dari agenda Environmental Water Resources Management dimana metode-metode atau cara-caranya seperti di bahas oleh DR. Chay Asdak dalm beberapa makalahnya perihal Penangulangan Banjir, Universitas Padjadjaran Bandung, 2003 dan Dr-Ing. Ir. Agus Mulyoni dan Ir. Edy Nugroho Santoso dalam bukunya bertitel Metode Memanen dan Memanfaatkan Air Hujan Untuk Penyediaan Air Bersih, Mencegah Banjir dan Kekeringan, KLH 2006, adalah sebagai berikut.

Pertama metode memanen hujan dengan bak tandon. Metode ini sebenarnya dahulu sudah jamak dilakukan oleh masyarakat di kabupaten Tuban maupun Bojonegoro di daerah pedesaan yang tidak mempunyai sumur air, namun untuk dua dekade belakangan ini sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat setelah mereka mendapatan akses sumur air. Metode ini bisa dilakuan dengan membuat kolom tandon secara individu di rumah-rumah atau secara komunal atau kelompok. Dan bahkan metode ini bisa diterapkan di perkotaan baik itu rumah tangga atau hotel-hotel maupun perkantoran. Air dari tandon ini bisa digunakan untuk keperluan mengepel, mencuci, menggelontor WC ataupun untuk menyiram tanaman.

Untuk mengurangi meluapnya air hujan langsung mengalir ke selokan-selokan atau kali-kali / sungai-sungai, atau tidak terserapnya air hujan oleh tanah, maka kiranya metode ini perlu segera dikembangkan di masyarakatkan secara luasserta dilakukan secara missal oleh masyarakat baik skala rumah tangga ataupun kelompok. Sehingga program untuk mengurangi banjir ataupun banjir bandang bisa terwujud.

Kedua metode memanen hujan dengan sumur resapan.dan kolam penampungan. Sebenarnya metode sumur resapan sudah banyak dikenal masyarakat, dapat diimplementasikan pada setiap unit perkantoran, tempat-tempat rekreasi, olah raga, pada ruas-ruas jalan, lapangan – lapangan dan bahkan di rumah-rumah warga. Dan bahkan secara masal metode ini juga bisa diterapkan dengan membuat lubang biopri di lapangan atau di daerah-daerah lahan terbuka. Kenyataannya masyarakat sudah banyak mengenal sumur resapan, namun implementasinya masih tergolong lambat.
Adapun metode memanen hujan dengan kolam penampungan sudah dipraktekan secara tradisionel oleh nenek moyang bangsa Indonesia, dahulu hampir setiap rumah tangga mempunya kolam-kolam sekaligus untuk memelihara ikan, tempat sampah organik atau merendam kayu.

Metode kolam resapan ini dalam skala besar sangat mudah untuk diaplikasikan melalui pola pemenuhan kebutuhan bahan urug atau pedel (bahan galian C). Pemerintah dan masyarakat dapat mencari lokasi tambang galian C, kemudian dikeruk hasil galiannya dipakai sebagai bahan urug. Bekas galiannya dipakai sebagai kolam resapan air sekaligus dikembangkan untuk rekreasi atau sebagai sumber irigasi saat kemarau tiba dengan dibantu peralatan pompa untuk mengalirkannya ke perladangan atau persawahan. Cara ini sudah dipraktekkan di bekas-bekas galian tambang Semen Gresik di Tuban, namun efektifitasnya dari sisi keranahlingkungan masih perlu studi lebih lanjut. Sehingga mereka mempunyai beberapa danau buatan yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi irigasi persawahanya. Adapun cara ini juga sudah diterapkan di daerah kabupaten Bojonegoro dengan nama proyek Embung Geomembrane.

Metode ini semestinya harus dijadikan program pemerintah untuk program rehabilitasi daerah-daerah bekas tambang galian C yang sudah ditinggalkan oleh para penambang. Sehingga di samping untuk penampungan air hujan juga bisa dimanfaatkan saat musim kemarau nantinya sebagai sumber air irigasi warga.

Sekiranya metode kedua ini diterapkan secara missal dan sistematis, maka limpahan air hujan yang tidak terserap tanah akan bisa diarahkan untuk ditampung di kolam-kolam raksasa ini. Sehingga bisa mencegah untuk menjadi banjir bandang seperti belakangan ini sering terjadi.

Ketiga metode memanen hujan dengan tanggul pekarangan, masyarakat di pedesaan sampai saat ini masih mempunyai metode menanggulangi erosi pekarangan dengan membuat tanggul rendah 20 – 30 cm dari susunan batu kosong atau batu kumbung / batu bata dan tanaman mengelilingi pekarangan mereka. Konstruksi ini ternyata berfungsi juga sebagai pola memanen hujan, karena limpahan-limpahan air hujan akan tertahan dan meresap di areal pekarangan dan tidak langsung mengalir ke sungai. Tradisi ini perlu dikembangkan dan didukung secara nyata oleh pemerintah.

Sayangnya tradisi ini sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat utamanya di perkotaan. Pagar tanaman sudah diganti dengan pagar tembok. Juga masyarakat pedesaan sudah meninggalkan untuk merawat pagar yang terbuat dari tanaman hidup.

Keempat metode memanen hujan dengan melakukan revitalisasi aliran sungai, danau, telaga dan situ. Kondisi aliran sungai, telaga, danau dan situ diberbagai tempat di kabupaten Tuban maupun kabupaten Bojonegoro semakin memburuk, daya tampungnya drastis berkurang karena sedimentasi, atau diurug dan dijarah dijadikan areal komersial.

Metode rain water haversting dapat dilakukan untuk merevitalisasi kembali danau, telaga dan situ dengan konsep ekohidraulik, yaitu memperbaiki dan menyehatkan seluruh komponen penyusun telaga, situ dan danau yang bersangkutan, sehingga dapat berfungsi menampung dan merespakan air hujan hingga dapat digunakan untuk keperluan air minum, air irigasi maupun pengisian air tanah.

Kelima metode memanen hujan dengan modifikasi landsekap. Modifikasi landsekap untuk memanen hujan sedang banyak dikerjakan di beberpa negara maju, misal di Kanada, Jerman dan Jepang. Salah satunya dengan mengganti jaringan drainase kawasan dengan cekungan-cekungan diberbagai tempat (modifikasi landsekap), sehingga air hujan akan tertampung di lokasi cekungan tersebut. Dengan cara modifikasi landsekap ini ternyata dapat menekan biaya konstruksi jaringan drainase suatu kawasan. Di Indonesia metode ini belum berkembang sama sekali, sehingga mendesak untuk dilakukan studi dan pilot project secara intensif.

Keenam metode memanen hujan dengan mengembangkan daerah perlindungan air tanah. Pemerintah dan masyarakat mengusahakan suatu kawasan atau wilayah tertentu yang khusus diperuntukkan sebagai daerah pemanenan air hujan (peresapan air hujan) yang dijaga deversifikasi vegetasinya dan tidak boleh dibangun konstruksi apapun di atas areal tersebut . Untuk keperluan ini harus dipilih daerah yang mempunyai kepasitas peresepan tinggi dan bebas dari kontaminasi polutan. Konsep ini belum banyak dikenal di Indonesia, maka setiap daerah perlu segera mencari lokasi atau kawasan yang dapat dikembangkan menjadi cagar alam resapan air hujan ini.

Kedelapan metode memanen hujan dengan memperbaiki atau reboisasi hutan Sekarang ini kondisi hutan di daerah kabupaten Tuban dan Bojonegoro sudah semakin rusak dan memprihatinkan karena aksi ilegal logging ataupun ilegal mining galian C. Sehingga kerusakan hutan tersebut menjadi kontributor utama yang mengakibatkan terjadinya banjir ataupun banjir bandang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahwa hutan bisa mendaur ulang hujan sampai 75% dan 25% sisanya mengalir ke hilir dan meresap kedalam tanah. Coba bayangkan dengan kerusakan hutan yang sangat massif di Tuban dan Bojonegoro maka air hujan akan langsung mengalir ke hilir tanpa ada halangan yang merintanginya sehingga akibatnya banjir bandang terjadi.

Mekanisme daur ulang hujan tersebut dimulai dengan evapotranspirasi, pembentukan awan di wilayah hutan dan awan ini jatuh kembali berupa hujan, demikian seterusnya. Daur ulang ini adalah mekanisme fungsi hutan dalam memanen hujan. Dengan 75% air hujan tersirkulasi di wilayah hutan, maka frekuensi hujan di wilayah tersebut relatif tinggi dan teratur serta musim hujannya realtif panjang. Hujan dengan frekuansi tinggi ini tidak akan menyebabkan banjir karena 75 % menguap dan hanya 25% mengalir kehilir. Kekeringan juga tidak akan terjadi, karena pasokan air 25 % ke hilir tersebut didapatkan secara kontinyu hampir sepanjang tahun. Melihat fungsi hutan komponen daur ulang air hujan tersebut, maka kedepan hutan harus dipandang sebagai modal tetap atau aktiva tetap, bukan sebagai modal bergerak. Perlu disadari bahwa harga kayu yang dihasilkan dari merambah hutan tidaklah berarti jika dibandingkan dengan harga fungsi hutan secara integral yaitu hutan sebagai penyimpan air, pengendali banjir, pengendali kekeringan, pengendali longsor, stabilisator temperatur, konservasi ekosistem mikro dan makro serta pemasok oksigin.

Terakhir, ironis sekali karunia hujan yang begitu besar di Bojonegoro dan Tuban ini masih diterlantarkan begitu saja. Sementara kondisi penyediaan air bersih di daerah ini mengkhawatirkan, banjir dan kekeringan setiap tahun mengancam. Air hujan dengan kualitas relatif tinggi yang turun 5 sampai 6 bulan dalam satu tahun di kawasan kita sungguh merupakan potensi yang sangat luar biasa. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat mulai sekarang ini adalah mengembangkan metode-metode tepat guna untuk memanen hujan seoptimal mungkin untuk pemenuhan kebutuhan air kita sehari-hari, mengurangi banjir dan kekeringan.

Gerakan massal
Agar kegiatan pemanenan hujan bisa dilaksanakan dengan sukses dan bermanfaat bagi masyarakat serta lingkungan, maka harus ada upaya menjadikannya suatu gerakan massal yang sistematis dan masif. Untuk itu diperlukan peran kepemimpinan nyata dari otoritas kekuasaan(dalam hal ini pemkab), para pegiat LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) khususnya yang bergerak sebagai pemerhati lingkungan hidup, perguruan tinggi, dan juga para tokoh masyarakat dan tokoh agama dengan dukungan informasi dan sosialisaai dari media massa.
Peran otoritas kekuasaan, selain melalui instrumen regulasi (perda) adalah juga melalui kepemimpinan dalam program ini serta juga melalui contoh nyata. Oleh karena itu, gedung-gedung perkantoran pemerintahan bisa menjadi proyek percontohan sistem pemanenan air baik dengan metode kolam penampungan, sumur resapan ataupun tanggul pekarangan. Studi lebih lanjut untuk mengaplikasikan pemanenan air hujan kiranya sangat diperlukan.

Revitalisasi aliran sungai, waduk, danau dan situ juga harus digarap secara seksama sehingga limpahan air hujan bisa dialirkan dan di tampung untuk sementara di danau / waduk / situ untuk kemudian digunakan sabagai bahan baku air minum ataupun sumber air irigasi.
Pemanfaatan bekas-bekas penambangan galian C sebagai kolam penampungan air hujan juga kiranya perlu dilakukan dengan tentunya didahului oleh suatu studi yang koperehensif dan mendalam.
Otoritas keagamaan melalui mesjid, gereja, kelenteng, dan tempat ibadah lainnya ataupun pesantren-pesantren bisa diajak untuk melakukan sosialisasi kepada jamaah dan umatnya dan mengaplikasikan proyek ini. Dan tidak lupa gerakan massal yang melibatkan seluruh masyarakat untuk terlibat membuat kolam penampungan air hujan, sumur resapan ataupun tanggul pekarangan haruslah juga dilakukan. Sehingga jika gerakan missal pemanenan hujan ini bisa dilakukan secara benar-benar sistematis dan massif maka niscaya resiko terjadinya banjir ataupun banjir bandang bisa ditekan dan diminimalisir, semoga. (KH, 7 Maret 2015).

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: