Pertanian Organik Sebagai Solusi Keluar dari Masa Sulit

Oleh : Khozanah Hidayati (anggota DPRD Jatim FPKB)

Beberapa tahun belakangan ini para petani selalu didera kerugian yang terus menerus. Saat awal tanam, pupuk bersubsidi selalu hilang dari pasaran dan saat panen harga komoditas yang dipanen jatuh di pasaran. Di samping itu hasil panen yang didapat jauh dari ekpektasi, hal ini karena kondisi tanah pertanian mereka sudah mengalami kejenuhan akibat asupan pupuk-pupuk kimiawi dan pestisida yang digunakan puluhan tahun ini telah merusak struktur tanah yanga ada.

Kelangkaan pupuk bersubsidi saat para petani membutuhkan seolah selalu terjadi berulang setiap tahun dan setiap musim tanam. Pupuk bersubsidi menghilang dari pasaran dan kalaupun ada harganya jauh di atas harga subsidi yang sudah ditetapkan pemerintah. Dan bahkan ternyata banyak pupuk bersubsidi yang di selewengkan oleh oknum-oknum pemilik kios pupuk untuk mendapatkan keuntungan lebih.

Pemerintah sendiri mewacanakan untuk menghapus pupuk bersubsidi dan menggantinya dengan subsidi pada harga jual dari pada hasil pertanian. Ini pertujuan agar tidak ada penyelewengan pupuk bersubsidi lagi. Karena mengingat tingginya disparitas harga antara pupuk bersubsidi dengan pupuk non subsidi. Di samping itu pemerintah juga mewacanakan untuk menata ulang tata kelola pupuk bersubsidi agar rantai distribusi pupuk bersubsidi yang ada sekarang tidak justru menjadi pelaku kecurangan dalam hal pendistribusian pupuk bersubsidi.

Persoalan-persoalan tersebut di atas akan terus terjadi sepanjang disparitas antara harga pupuk subsidi dan non subsidi begitu tingginya. Juga kalau nanti pemerintah jadi mengalihkan subsidi kepada harga hasil pertanian, tentunya juga akan terjadi penyelewengan jika disparitas harganya menguntungkan bagi si pelaku penyelewengan tersebut.

Jatuhnya harga komoditas saat panen raya tiba sebenarnya adalah merupakan hukum ekonomi, dimana saat suplai barang berlebih otomatis harga barang tersebut akan turun. Namun penurunan harga yang tidak wajar seperti pada komoditas pertanian saat panen adalah bisa jadi karena permainan tengkulak yang mengharapkan keuntungan berlebih dari bisnis ini.

Semestinya pemerintah harus memberikan keberpihakan kepada para petani dengan melakukan pembelian hasil panen berapapun jumlahnya. Sehingga para tengkulak yang mencoba melakukan permainan harga akan mundur dengan sendirinya.

Di samping permasalahan pupuk kimiawi seperti diuraikan di atas. Para petani sekarang ini juga mengalami kondisi tanah pertanian mereka yang sudah jenuh akibat pemakaian pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan terhadap tanaman mereka. Kondisi ini akan menyebabkan hasil panennya tidak sesuai harapan baik dari sisi kwalitas maupun dari sis kwantitas.

Untuk keluar dari permasalahan tersebut bagaimana dengan gagasan untuk kembali ke pertanian organik? Jika petani memilih untuk bertani secara organik, mereka tidak akan tergantung kepada pupuk kimiawi (pupuk pabrik). Membuat pupuk sendiri membuat petani lebih mandiri sehingga pemerintah tidak perlu memberi subsidi pembelian pupuk kimiawi. Di samping itu membuat pupuk sendiri akan menghemat atau menekan biaya produksi..

Di sisi lain, pertanian organik di Indonesia dapat menjadi suatu alternatif pemenuhan kebutuhan pangan di dalam jangka panjang yang ramah lingkungan. Untuk mendukung produksi pupuk organik petani, sebaiknya pemerintah mengembangkan program ternak bagi petani. Kotoran ternak seperti sapi atau kambing dapat menjadi sumber pupuk organik yang baik. Petani juga perlu mendapat bantuan untuk peningkatkan ketrampilan dalam hal pengelolaan sampah untuk dijadikan pupuk organik.

Namun, apakah kembali ke pertanian organik bisa semudah itu? Sebagian petani di Indonesia terbiasa menggunakan pupuk kimiawi yang memberi respon cepat pada tanaman. Urea, misalnya, akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan cepat jika dibandingkan dengan pupuk organik.

Dan bahkan pada masa tiga tahun pertama kembali ke pertanian organik akan menurunkan produksi pertanian. Tahun-tahun awal ini akan mengalami banyak kendala dan membutuhkan tabungan yang cukup dari petani untuk bertahan. Pertanian organik juga membutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama tanaman menggunakan pestisida alami serta manajemen yang berbeda dengan pertanian dengan teknologi revolusi hijau.

Pemerintah, akademisi, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pertanian perlu menanamkan kesadaran pada masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menjaga lingkungan dengan pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis. Semua pihak perlu bersama-sama mengubah orientasi petani yang sudah terjerumus pada sistem pertanian revolusi hijau ini.

Produktivitas pertanian yang selama ini diupayakan dengan penggunaan benih, pupuk, dan pestisida kimiawi ini selain tidak ramah lingkungan juga memiskinkan petani karena mereka tidak lagi mandiri dan enggan memproduksi benih sendiri. Penyadaran ini bisa disertai promosi jika dalam jangka panjangnya pertanian organik juga memberikan keuntungan secara materi.
Pertanian Organik sebagai Solusi
Melihat perkembangan dunia pangan khususnya produk pertanian dewasa ini, sudah menjadi keharusan apabila pertanian dilaksanakan secara organik. Potensi mengembangkan pertanian organik di Indonesia pun terbilang sangat terbuka lebar, hal ini karena tersedianya berbagai unsur tanaman yang berfungsi sebagai pupuk organik maupun pestisida nabati serta memungkinkan berkembangbiaknya musuh alami (predator) bagi pengendalian siklus hidup hama dan penyakit.

Pupuk organik (kompos) sudah tidak asing lagi bagi petani-petani di Indonesia. Pada era pertanian klasik kompos yang biasanya terbuat dari kotoran hewan maupun sisa-sisa tumbuhan yang telah membusuk digunakan sebagai bahan andalan penyubur tanaman. Seiring dengan maraknya penggunaan pupuk kimia keberadaan pupuk organik pun mulai ditinggalkan oleh para petani.

Begitu juga dewasa ini perkembangan hama dan penyakit tanaman cukup memprihatinkan. Hail ini banyak yang menilai hal tersebut disebabkan oleh faktor anomali cuaca dan rusaknya ekosistem alam. Tetapi meningkatnya hama dan penyakit tanaman dewasa ini juga tidak menutup kemungkinan karena berkurangnya musuh alami (predator) di alam bebas, sehingga terjadi ketidak seimbangan ekosistem. Contohnya; mewabahnya hama tikus dikarenakan populasi ular yang sudah langka, mewabahnya wabah belalang karena menurunnya populasi burung pemakan belalang, dan lain sebagainya.

Disamping penggunaan musuh alami untuk pengendalian hama dan penyakit, penggunaan pestisida nabati juga sangat mungkin untuk diterapkan. Indonesia memiliki varitas tumbuhan obat untuk penggunaan pestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati ini juga sudah tidak asing lagi penggunaannya oleh para petani tradisional. Seperti penggunaan tembakau untuk mengusir hama wereng dan lain sebagainya.

Pertanian organik memang tidak memberikan reaksi instan pada hasil-hasil pertanian, akan tetapi dengan pelaksanaan pertanian organik akan membawa pertanian berjangka panjang dan memberikan solusi bagi tersedianya bahan pangan yang sehat. Oleh karena itu di era pertanian modern sekarang ini, penerapan pertanian organik mutlak diperlukan, secara gradual dan sistematis para petani sedikit demi sedikit dikurangi ketergantungannya terhadap bahan-bahan kimiawi.
Agar kiranya program kembali ke pertanian organik ini berhasil dan sukses, maka diperlukan beberapa syarat untuk tercapainya, yakni: pertama ada keberpihakan secara politik dari dari pemerintah dengan penerapan program-program pertanian organik dan memberikan stimulus dana yang bisa menarik para petani untuk berpindah dari pertanian revolusi hijau ke pertanian organik.

Kedua, adanya tenaga penyuluh pertanian yang handal untuk terjun ke lapangan membantu para petani untuk bertani secara organik. Tanpa didukung tenaga penyuluh pertanian yang handal maka tentunya program ini tidak akan berhasil karena para petani sudah lupa akan tata-cara bertani secara organik dan efektif.

Ketiga, kerjasama antara Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pertanian untuk melakukan pendampingan dan memotifasi para petani untuk bercocok tanam secara organic. Dengan pendampingan dari LSM-LSM tersebut diharapkan ide-ide kreatifnya dan motifasinya bisa ditularkan kepada para petani.

Keempat, kerja sama dengan perguruan tinggi untuk mendapatkan temuan-temuan baru di bidang pertanian organik. Kerjasama dengan perguruan tinggi ini penting agar penemuan-penemuan hasil penelitian iitu dapat diaplikasikan dalam bentuk nyata didunia pertanian, bukan hanya sebagai karya ilmiah yang dibukukan dan dijadikan referensi di perpustakaan-perpustakaan tanpa aplikasi nyata.

Disamping mendorong para petani beralih dari pertanian revolusi hijau (konvensional) ke pertanian organik. Perlu juga kiranya mendorong petani untuk menanam tanaman varietas unggul lokal yang akhir-akhir ini harganya cukup mahal, misalnya padi merah, padi hitam, padi pendok (varietas padi unggul dari Tuban) dan lain sebagainya.

Dengan memasyarakatkan dan memperbanyak tanaman-tanaman dari jenis varietas unggul lokal tersebut, maka bisa diciptakan peluang sebagai tanaman ikon atau unggulan tiap daerah. Sehingga secara otomatis akan mendongkrak nilai keekonomianya..

Dengan terlaksanananya sistem pertanian organik, berarti lepasnya ketergantungan petani dari pupuk dan obat-obatan kimiawi, masa depan pertanian di Indonesia akan semakin baik, para petani bisa mandiri serta produk pertanian jelas semakin berkualitas. Juga sebsidi pupuk yang menguras anggaran Negara bisa dihentikan. Apalagi jika dibarengi dengan menanam tanman varietas unggul lokal. Biaya produksi bertani akan bisa diturunkan dan harga dari komoditas yang dipanen akan jauh di atas harga komoditas dari pertanian konvensioal. Sehingga diharapkan hasil yang didapatkan akan memberikan kesejahteraan para petani. Semoga. (KH; 16 April 2015).

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: