Menagih Janji Hari Santri

Menyongsong Muktamar NU ke 33

Oleh : Khozanah Hidayati (Anggota Fraksi PKB DPRD Jatim)

Saat kampanye pilpres 2014 lalu Jokowi berjanji kepada pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Malamg, Jawa Timur KH. Thoriq Bin Ziyad  untuk menetapkan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Dan janji tersebut mendapatkan respon cukup antusias dari kalangan warga nahdliyyin sehingga mayoritas mereka menentukan pilihanya pada Jokowi saat pilpres 2014. Walau janji tersebut sempat menuai kontroversi karena tanggapan dari politisi PKS (Partai Keadilan Sejahtera), yakni Fahri Hamzah yang mengatakan ide hari santri sebagai ide gila lewat kicauanya di account media sosial Twitter.

Setelah hampir satu tahun berlalu janji Jokowi yang memenangi pilpres 2014 perihal penetapan Hari Santri Nasional belum juga diwujudkan. Entah karena masih dalam penggodokan untuk penetapannya atau memang belum sempat digodoknya atau jangan-jangan memang  justru dibatalkan mengingat ide tersebut sempat jadi polemik  karena dianggap ide gila.

Penetapan Hari Santri Nasional tersebut tentunya mempunyai makna historis dan strategis bagi NU. Mengingat mayoritas komunitas yang dinamakan santri adalah anggota NU. Sebagai anggota resmi organisasi NU atau merasa anggota NU karena amaliyah ibadahnya mengacu ke ajaran ahlus sunah wal jama”ah ala NU. Untuk itu NU perlu merumuskan kapan sebaiknya Hari Santri Nasuonal diperingati dan merekomendasikannya kepada pemerintah untuk ditetapkannya. Dan pada saat muktamar NU ke 33 di Jombang pada awal Agustus mendatang adalah waktu yang tepat untuk memusyawarahkannya.

Kenapa Hari Santri?

Hari santri perlu diperjuangakan untuk bisa ditetapkan. Hal ini sebagai bentuk penghargaan bangsa Indoneisa terhadap perjuangan kaum santri pada era sebelum kemerdekaan, saat perang kemerdekaan, saat orde baru tersebut maupun saat era reformasi sekarang ini.

Pada era kebangkitan nasional di era 1920 – an, kaum santri bahu membahu dengan elemen-elemen bangsa lainya terlibat dalam pergerakan nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan hingga saat detik-detik kemerdekaan. Pada masa itu organisasi-organisasi pergerakan bermunculan, termasuk di dalamnya organisasi Nahdhotul Ulama (NU).

Pada masa kemerdekaan, kaum santri yang diwakili oleh KH. Wahid Hasyim yang terlibat dalam badan konstituante dengan suka rela dan ihlas untuk mengganti sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta yang berbunyi  “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.  Penggantian kalimat sila pertama tersebut demi mewadahi usulan dari saudara-saudara kita dari Indonesia Timur yang tidak menghendaki adanya kalimat diskriminatiif tersebut yang hanya diperuntukkan bagi mayoritas penduduk muslim. Bisa dibayangkan jika wakil dari kaum santri tidak menyetujui dari permintaan tersebut niscaya NKRI tidak akan berdiri seperti sekarang ini atau NKRI akan terpecah belah karena beberapa daerah dari Indonesia Timur seperti Bali, Nusatenggara Timur, Sulawesi Utara dan Maluku yang mayoritas penduduknya non muslim akan memisahkan diri dari NKRI.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa pada saat perang kemerdekaan kaum santri peranannya sangatlah besar dan berarti. Seperti saat perang 10 Nopember 1945 di Surabaya yang sangat masyhur tersebut. Ro’isul Akbar NU KH. Hasyim Asy’ari mendeklarasikan Resolusi Jihad. Yang pada intinya mewajibkan kepada bagi semua muslim di radius 94 km dari Surabaya untuk berjihad angkat senjata melawan penjajah yang berusaha menjajah kembali negeri ini. Dengan Resolusi Jihad tersebut akhirnya perang kemerdekaan 10 Nopember 1945 di Surabaya berhasil memporak-poranndakan dan memalukan pasukan sekutu yang dipimpin Inggris.

Walau pada saat orde baru kaum santri benar-benar terpinggirkan dari gelanggang pemerintahan negeri ini. Namun mereka tidak mengadakan perlawanan terhadap pemerintah. Mereka tetap patuh dengan apa yang digariskan pemerintahan pada saat itu. Dan tidak membuat masalah apalagi perlawanan. Bahkan saat ramainya kontroversi penerapan azas tunggal Pancasila bagi semua organisasi di Indonesia. NU lah yang tampil paling depan untuk menerima azas tunggal tersebut dan mengkampanyekan kepada organisasi sosial lainya.

Peran kaum santripun pada saat reformasi tidaklah bisa dianggap kecil. Pada saat-saat akhir kepemimpinan presiden Soeharto dimana kondisi negara sedang genting karena demonstrasi dimana-mana para pemimpin kaum santrilah yang menghibur dan ‘mengojok-ojok” Soeharto untuk lengser dari kursi presiden. Mereka adalah Gus Dur dan Emha Ainun Najib. Dan akhirnya apakah berkat desakan itu atau karena lainnys akhirnya Soeharto mengundurkan diri dari kursi kepresidenan yang telah 32 tahun didudukinya.

Dari uraian perihal peran aktif kaum santri di atas, sudah jelaslah kontribusi besarnya bagi bangsa. Sehingga sudah sepantasnya bangsa ini memberikan tetenger akan peran besar tersebut dengan memperingatinya dengan adanya Hari Santri Nasional.

Kapan Sebaiknya Hari Santri?
Sebelum kita ulas perihal sebaiknya kapan hari santri diperingati, alangkah baiknya kita mencari esensi manfaat dari hari santri tersebut. Apakah sekedar peringatan penuh dengan hura-hura sebagai pelipurlara atau ada manfaat yang lebih dalam. Mengingat sudah banyak hari-hari spesial yang perlu diperingati di negeri ini. Tentunya peringatan hari santri harus ada benang merah yang cukup jelas untuk  menghubungkannya dengan tanggal dimana hari santri ditetapkan.

Kalau tanggal 1 Muharram seperti yang dijanjikan Jokowi saat kampanye pilpres tahun lalu, tentunya kurang pas mengingat 1 Muharam sudah diperingati sebagai Tahun Baru Islam oleh masyarakat Muslim dunia. Di samping itu 1 Muharram juga tidak ada benang merah yang spesifik dengan sejarah perjalanan bangsa secara umum ataupun secara khusus bagi kaum santri.

Namun kalau kita cermati secara seksama akan sejarah peran kaum santri terhadap sejarah perjalanan dan perjuangan bangsa di masa lalu seperti dinukill di atas. Tentunya pantaslah kalau peringatan Hari Santri Nasional ditetapkan bertepatan dengan dimana kaum santri mempunyai puncak darma baktinya pada saat awal-awal berdirinya negeri ini, yakni saat  dikumandangkannya Resolusi Jihad oleh Hadratus Syaih KH. Hasyim Asy’ari untuk mendeklarasikan kwajiban bagi semua muslim di radius 94 km dari Surabaya untuk angkat senjata melawan penjajah yang berusaha menjajah kembali negeri ini. Tanggal tersebut adalah 22 Oktober, dimana pada tahun 1945 pada hari tersebut telah dikumandangkan seruan jihad untuk mempertahankan kemerdekaan yang belum genap berunur 3 bulan.

Dengan seruan jihad tersebut maka Belanda dan Sekutu yang berusaha merebut kota Surabaya kocar-kacir karena mendapatkan perlawanan yang sangat heroik dari segenap anak bangsa utamanya kaum santri yang terpanggil seruan Resolusi Jihad tersebut.

Sehingga bisa dikatakan seandainya tidak ada seruan Jihad dari Mbah Hasyim mungkin Belanda dengan dibantu Sekutu berhasil menjajah kembali negeri ini. Dan bahkan bisa dikatakan bahwa perang besar 10 Nopember 1945 di Surabaya yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan adalah berkat “letupan” seruan Jihad dari Mbah Hasyim ini. Bung Tomo dengan pidatonya yang heroik dengan diselingi pikikan Allahu Akbar juga berkat konsultasinya kepada Mbah Hasyim Asya’ri.

Sehingga pantaslah kalau tanggal dimana Resolusi Jihad dikumandangkan (tanggal 22 Oktober) mempunyai arti yang sangat penting bagi sejarah perjuangan bangsa ini. Juga mempunyai benang merah yang jelas dengan perjuangan kaum santri itu diperingati sebagai hari yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Untuk itu sudah selayaknya kalau hari tersebut diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Semoga nantinya kalau hari santri sudah ditetapkan untuk diperingati setiap tanggal 22 Oktober, maka sejarah Resolusi Jihad NU seperti diuraikan di atas tidak akan dilupakan oleh sejarah dan bisa dijadikan ibroh bagi anak bangsa, khususnya para generasi muda. Sehingga mereka tidak sembarangan memaknai jihad seperti yang digembar-gemborkan oleh kaum radikalis belakangan ini, semoga!.

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: