KARTINI SEBAGAI INSPIRATOR PENULISAN TAFSIR

Kartini yg dikenal sbg tokoh emansipasi wanita ternyata seorang muslimah yg kritis dan memiliki kedalaman spiritual yg tinggi. Kartini belajar tafsir al-Qur’an dg Kyai Sholeh bin Umar yg berasal dari Semarang, (juga guru KH.Hasyim Asy’ari, Pendiri NU) terkenal dengan mbah yai Sholeh Darat.

Dalam salah satu dialognya, Pak Kyai bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya? Kyai Sholeh balik bertanya. Kenapa Raden Ajeng bertanya demikian?

Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat al-fatihah, surat pertama dan induk al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku.

Sang guru seolah tak punya kata utk menyela. Kartini merasa heran, selama ini para ulama melarang keras menerjemahkan dan penafsiran al-Quran ke dlm bhs Jawa. Bukankah al-Quran adlh bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?

Bermula dari dialog dg Kyai Sholeh Darat, Kartini telah menginspirasi dan menggugah   Kyai Sholeh utk menerjemahkan al-Quran dg menggunakan aksara “pegon”. Kitab tafsir dan terjemahan al-Quran diberi nama Kitab FAIDHUR RAHMAN yg konon mjd kitab tafsir pertama di Nusantara dlm bhs Jawa dg aksara Arab. Kitab ini terdiri 2 jilid dan dicetak di Singapura pd tgl 7 November 1893.

Kitab tafsir tersebut kemudian dihadiahkan kpd Kartini ketika melangsungkan pernikahannya dg R.M. Joyodiningrat, Bupati Rembang.

Salah satu ayat yg menggugah hati Kartini dan senantiasa diulang-ulang dlm berbagai suratnya yg dikirimkan kpd sahabat2 nya di Belanda adalah QS al-Baqarah: 257 “Allah Pelindung bagi orang2 yg beriman; Dia mengeluarkan mereka dari al-zhulumat  (kegelapan/kekafiran) kepada al-nur (cahaya/iman) (Habis gelap terbitlah terang). Ini merupakan inti ajaran Islam yg membaw manusia dari kegelapan menuju cahaya iman.

Surah al-Baqarah ayat 257 mengajarkan umat manusia agar terus berpikir positif. Kartini berkeyakinan bahwa pd suatu saat nanti kaum perempuan akan mampu keluar dari kungkungan “penjara tradisi” Jawa yg cenderung membelenggu kaum perempuan.

Dalam tradisi Jawa perempuan diposisikan sbg the second sex bahkan tercermin dlm ungkapan suwargo nunut neroko katut, dan perempuan dijadikan sbg pemuas nafsu seksual bagi laki- laki.

Salah satu upaya utk mengatasi problem tersebut adalah melalui pendidikan. Karena pendidikan sbg syarat utama utk membebaskan dari belenggu yg menghimpitnya.

Kartini sangat menyukai kitab tafsir tersebut yg telah bnyk memberikan inspirasi dlm melakukan perenungan spiritual.

Dalam kesempatan yg lain Kartini juga menuliskan tekadnya setelah mengalami transformasi spiritual: sy bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yg selama ini kerap mjd sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat. Kartini sadar utk mencapai cita-cita tertinggi yg sangat mengejutkan: “ingin benar sy menggunakan gelar tertinggi, yaitu HAMBA ALLAH”.

Demikianlah kesadaran dan cita2 spiritualitas Kartini begitu tinggi yakni mjd HAMBA ALLAH yg mampu membawa citra Islam yg menebarkan damai di bumi ini.

Maka jelaslah bahwa keinginan Kartini mnjd manusia biasa saja antara lain dlm pernyataannya: “panggi  aku kartini saja” ternyata tak lepas dari kesadaran spirituaulitas yg tinggi yakni menggapai gelar sbg HAMBA ALLAH.

Perjuangan Kartini sangat luhur, jasa dan perjuangannya dlm mempelajari Islam bisa  menjadi spirit dan teladan yg dpt menginspirasi kaum perempuan dlm menjalani hidup sehingga momentum Kartini mjd lebih bermakan dan tidak hanya sekedar seremonial belaka.
والله اعلم بالصواب

  1. #1 by Kharis Al Faqier on Oktober 5, 2016 - 12:05 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: