​Untuk Antisipasi Banjir, DPRD Jatim Desak Dinas PU Bangun Saluran Air

Penulis Catur Prasetya – 4 Mei 2017011

Nusantara.news, Surabaya – Banjir di beberapa daerah Jawa Timur yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah serius Pemerintah Provinsi Jatim harus segera dicarikan solusi agar tak menjadi momok warga setiap tahunnya.
Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Khozanah Hidayati menilai salah satu faktor penyebab banjir ketika musim hujan tiba,  selain cuaca, juga  kurang maksimalnya pembangunan saluran air serta adanya saluran yang tidak berfungsi secara baik. Hal inilah yang  menjadi perhatian serius Dinas PU Pengairan provinsi Jatim.
“Contoh banjir yang terjadi di daerah Tuban akhir-akhir ini, khususnya di Daerah Bantaran karena kirimam dari Sungai Bengawan Solo yang terlalu deras sedangkan  untuk saluran airnya tidak ada, sehingga menyebabkan banjir dan longsor yang luar biasa,” ucap Khozanah.
Khozanah menegaskan, jika Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan Provinsi Jawa Timur serius melakukan gebrakan terobosan melakukan pembangunan saluran air, maka bisa dipastikan bisa meminimalisir bencana banjir yang melanda ketika musim penghujan tiba.
“Semestinya PU Pengairan Provinsi Jatim harus mengantisipasi dengan membangun saluran air secara serius, apalagi hujan tahun ini diperkirakan akan terjadi atensitas yang tinggi dan cukup deras, ini bisa dipastikan akan terjadi banjir yang hebat akibat kiriman dari daerah yang lebih tinggi,” tegas Khozanah.
Politisi cantik asal Fraksi PKB ini juga meminta kepada Pemkab/Kota harus berkoordinasi dengan Pemprov Jatim dalam menanggulangi bencana banjir agar bisa mengatasinya, dan yang paling penting agar PU Pengairan Jatim melakukan terobosan baru dengan gencar melakukan pembangunan saluran air secara maksimal agar musim penghujan datang tidak lagi mengalami banjir.
Seperti diketahui bahwa luapan Kali Lamong di Kabupaten Gresik dan Kabupaten Gresik setiap tahunnya menjadi momok warga yang wilayahnya dialiri. Kedua wilayah merupakan  daerah pertama yang terdampak banjir. Meninggikan jalan provinsi dan pembuatan waduk dinilai sebagai program yang layak, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Rekomendasi ini juga yang selama ini sedang digarap oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk diusulkan kepada pemerintah pusat. Sebab kali Lamong masuk kewenangan pemerintah pusat, melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.
Terkait soal ini, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf menyatakan, ada dua solusi yakni solusi jangka pendek dan jangka panjang, dengan biaya  Rp1,454 triliun. Untuk jangka pendek fokus pada pembangunan tanggul, sudetan pada muara, dan normalisasi penampang sungai. Tentunya juga disertai dengan pembebasan lahan.
“Untuk jangka pendek biayanya Rp904 milar. Karena adanya pembebasan lahan, dan lebih difokuskan pada daerah hulu dengan reboisasi dan pembangunan waduk, maka dibutuhkan biaya sebesar Rp550 miliar,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Ini jelas menjadi pertaruhan bagi Wagub Jatim, jika usulan itu sekadar tulisan di kertas tanpa ada realisasi. Seperti dalam pantauan Nusantara.news, Bengawan Solo selama ini kurang dipedulikan, termasuk Kali Lamong. Untuk tahun ini, dalam RUPS Kemenpupera terdapat anggaran sekitar Rp20 miliar, itu pun untuk memperbaiki kembali tanggul yang rusak untuk hasil pekerjaan tahun 2015.
Kemenpupera hanya setuju mengalokasikan Rp20 miliar dari usulan Pemprov  sebesar Rp1,454 triliun. Maka, solusi untuk mengatasi banjir Kali Lamong cenderung hanya dalam wacana. Karenanya,  di  masa mendatang Kali Lamong tetap akan menyebabkan banjir. Sebenarnya, Banjir Kali Lamong bisa di atasi dengan membangun waduk di hulu, memperbaiki tanggul dan normalisasi penampang.
Sebenarnya banjir akibat luapan Kali Lamong itu biasa terjadi ketika Gresik, Lamongan dan Mojokerto mengalami hujan deras. Banjir tersebut mengakibatkan tergenangnya desa, sawah, dan jalan. Berdasarkan data kejadian banjir Kali Lamong milik Dinas PU Pengairan Jawa Timur, banjir akibat luapan Kali Lamong di Kabupaten Gresik, terdampak pada Kecamatan Benjeng, Balongpanggang, Cerme, dan Menganti.
Kali Lamong memiliki beberapa anak sungai, seperti Kali Gondang, Kali Cermenlerek, Kali Menganti dan Kali Iker-iker. Pada musim hujan, debit Kali Lamong cenderung besar. Namun, besarnya debit ini tidak mampu dialirkan dengan baik, sehingga air sungai meluap dan mengakibatkan banjir hampir setiap tahun.
Seluruh Kali Lamong berada di Provinsi Jawa Timur. Bagian hulu Kali Lamong terletak di daerah Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Mojokerto, yang berawal dari pegunungan Kendeng. Sementara bagian hilirnya berada di perbatasan antara Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik, serta bermuara di Selat Madura.
Daerah Aliran Kali Lamong memiliki luas ± 720 km2, dengan panjang alur sungai ± 103 km. Sehingga lebar rata-rata lebih kurang 6,9 meter. Dua mahasiswa ITS dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan(FTSP) yakni Gemma Galgani Tunjung Dewandaru, dan Umboro Lasminto,  dalam kajian yang berjudul  studi “Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan di Kabupaten Gresik” menyatakan bahwa aliran air dari hulu ke hilir terjadi penurunan debit dari Q25 = 460,282 m3/detik, menjadi Q25 = 223,9 m3/detik. Penurunan debit tanpa diimbangi tempat penampungan jelas akan menyebabkan air meluber.

https://nusantara.news/untuk-antisipasi-banjir-dprd-jatim-desak-dinas-pu-bangun-saluran-air/

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: