Archive for category Opiniku

Beredar Foto Polisi Tuban Menggendong Calon Haji Usia Lanjut

TUBAN, CAKRAWALA.CO – Beredar foto-foto Polisi di Tuban, Jawa Timur yang menggendong Calon Haji yang lanjut usia. Foto tersebut diunggah ke Twitter dan Facebook oleh Khozanah Hidayati, anggota DPRD Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

“Terima kasih pak Polisi Tuban yg telah membantu jamaah haji yg sepuh2. Semoga amalmu jadi pemberat timbanganmu di yaumil akhir nanti,”. Demikian tweet Ana Khozanah melalui akun pribadinya @ana_khoz

Polisi Tuban menggendong Calon Haji usia lanjut. Foto @ana_khoz

Menurut Ana, foto tersebut ia ambil saat pemberangkatan Calon Haji di Pendopo Bupati Tuban, Selasa (1/8/2017). Sejumlah anggota Polisi dan Satpol PP setempat menggendong Calon Haji yang berusia lanjut.

Foto Tersebut kemudian mendapat respon positif warga. “amminn….apresiasi untuk Pak AKP….jarang ada yg begini..” kata @Dianadjiemunaji. Sementara, Ing Habibi mengomentari foto tersebut di akun Facebook Ana Khozanah dengan memuji ketulusan polisi tersebut. “Bnar2 penegak hukum yg hebat,” tulisnya.

Anggota Satpol PP Tuban menggendong Calon Haji usia lanjut. Foto @ana_khoz

Sejauh ini, foto tersebut di akun Facebook Ana Khozanah telah disuka 158 orang dan dibagikan oleh dua orang.

Ana Khozanah juga mengapresiasi sikap Polisi tersebut. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa Polri sekarang sudah mulai dekat dengan masyarakat. Polri katanya, tanpa diminta sudah membantu jamaah haji sepuh yang membutuhkanya. “Hal tersebut sangat saya apresiasi karena telah menunjukkan bahwa Polri adalah pengayom masyarakat,” ujarnya kepada cakrawala.co.

Jumlah jamaah haji asal Tuban yang berangkat hari ini ada 890 orang jamaah masuk melalui Kelompok Terbang (Kloter) 16, 17 serta 21 Embarkasi Surabaya. (Mohammad Zaini)

https://www.cakrawala.co/2017/08/01/beredar-foto-polisi-tuban-menggendong-calon-haji-usia-lanjut/

Iklan

Tinggalkan komentar

​Full Day School Akan Bubarkan Madrasah Diniyah

Oleh : Khozanah Hidayati

(Anggota FPKB DPRD Jatim)

Keputusan yang dilontarkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan baru  Prof. Dr. Muhadjir Effendy tentang Full Day School (FDS) menuai kontroversi dan membuat gaduh di masyarakat. Nantinya kalau gagasan ini diterapkan, selama seharian penuh, siswa akan berada di bangku sekolah. Tujuannya menurut menteri Muhajir Effendy adalah untuk membentuk karakter siswa.  Alasan lain, karena ketika siswa pulang lebih dini, pergaulan siswa tidak terkontrol kedua orang tua sibuk bekerja dan baru pulang sore hari. Akibatnya, siswa bebas keluyuran di luar  rumah dan akan melakukan banyak perbuatan negatif  tanpa ada pengawasan dari orang tua.
Sebagian masyarakat setuju dengan gagasan tersebut, mereka beralasan karena kenyataannya sudah ada sekolah-sekolah yang berstatus fullday school utamanya di perkotaan dan bersifat sekolah terpadu. Dan juga mereka mengamini apa yang menjadi alasan Prof. Muhadjir tersebut di atas.
Jika dicermati secara sepintas, gagasan sekolah fullday tersebut sangat bagus. Namun jika  melihat dalam realitas di masyarakat,  kondisi tersebut tidak selamanya benar. Karena kebanyakaan dua orang tua yang bekerja dan kurang memperhatikan terhadap anak-anaknya adalah kalangan elit di perkotaan. Dan kalau dihitung jumlah mereka tidak siknifikan dibandingkan dengan jumlah masyarakat Indonesia secara umum. Di kampong-kampung, anak pulang sekolah lantas bermain dengan sesame mereka. Kadang mereka harus membantu orang tua mencari nafkah, meski secara umur masih terlalu dini. Mereka selalu lekat dengan kedua orang tua.
Bahkan di mayoritas daerah (utamanya di Jawa Timjr dan Jawa Tengah), tidak ada anak keluyuran di sore hari. Karena siang sepulang sekolah, setelah istirahat atau bermain selama beberapa jam, mereka  harus siap-siap untuk pergi ke Madrasah Diniyah (Madin) atau pergi ke Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) bagi anak yang belum bisa membaca Al Quran.
Di madrasah diniyah anak-anak akan belajar menghafal suarat-surat pendek Al-Quran dan memperdalam pelajaran agama Islam seperti fiqih, tauhid, ahlak, sejarah Islam dan hadist serta bahasa Arab dan segala ilmu alatnya. Baik mengaji dengan system sorogan maupun system bandongan ataupun dengan sitem lainnya terhadap kitab-kitab kuning klasik seperti Aqidatul Awam, Washaya, Safinatunnajah, Mabadi’ul Akhlak, Bulughul Maram, Taqrib, Tafsir Jalalain, Jurumuyah, Imrithi, Alfiyah dan ratusan kitab kuning lainnya.
Pendidikan non formal di madrasah diniyah ini sangat bermanfaat untuk membentuk karakter siswa dari sisi keislaman. Karena siswa akan mendapatkan materi ilmu keislaman secara intensif dan terarah. Selain itu juga ditata ahlak atau budi pekerti secara terstruktur dan dengan praktek langsung.
Sehingga dengan pendidikan dan pengajaran di madrasah diniyah seperti tersebut di atas,  siswa akan terbentuk karakternya secara tersetruktur dan terarah melalui materi keagamaan yang langsung diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Apalagi pendidikan di madrasah diniyah ini dibimbing oleh guru-guru yang berdedikasi tinggi dan ihlas dalam mengajar.
Apalagi pendidikan di madrasah diniyah ini tidak membebani anggaran negara, karena pendidikan ini bersifat swadaya masyarakat. Sehingga sangatlah tidak elok jika pemerintah akan melibas keberadaan madrasah diniyah ini demi mengadakan sekolah fullday.
Bisa dibayangkan jika gagasan sekolah fullday diterapkan secara masif di seluruh Indonesia, maka madrasah diniyah yang sudah teruji dengan sistem pendidikan moral keagamaannya ini, akan bubar seketika. Anak-anak didik akan disibukkan dengan materi umum, sedangkan materi keagamaan dan materi pembinaan budi pekerti akan terabaikan.
Ditambah lagi sistem pendidikan yang ada hanya mementingkan pendidikan duniawi semata. Sekolah fullday hanya akan diisi dengan pendalaman pelajaran umum yang ada tanpa ditambah atau diperkaya dengan pendidikan karakter keagamaan seperti di madrasah diniyah. Sehingga akibatnya nanti kalau gagasan ini jadi diterapkan akan terjadi krisis ahlak dan krisis moral. Kalau sudah terjadi krisis ahlak dan moral, terus mau dibawa kemana arah bangsa ini?
Semestinya pemerintah harus mendorong, menggalakkan dan memfasilitasi pendidikan madrasah diniyah sebagai penopang pendidikan kegamaan, pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti bagi generasi penerus bangsa, bukan justru membrangus dengan dalih menerapkan sekolah fullday.
Sekiranya gagasan kotroversial tersebut jadi diterapkan, maka dampaknya akan sangat besar sekali terhadap keberadaan madrasah diniyah di seluruh Indonesia. Karena secara keseluruhan berdasarkan data  yang ada (2008) jumlah madrasah diniyah seluruh Indonesia adalah 37.102 madrasah yang terdiri dari tingkat Ula, Wustho dan Ulya. Dan dari jumlah tersebut mendidik siswa sebanyak 3.557.713 serta jumlah guru 270.151. Suatu jumlah yang sangat besar bukan?
Dampak yang ditimbulkan akibat penerapan kebijakan sekolah fullday haruslah dikaji secara matang dan mendalam baik dampak secara langsung maupun dampak secara tidak langsung. Dampak secara langsung misalnya : Berkurangnya jam interaksi anak terhadap orang tua dan lingkungannya baik di rumah maupun lingkungannya, ketidaksiapan infrastruktur sekolah untuk melaksanakan sekolah fullday , ketidaksiapan sekolah-sekolah di daerah untuk menambah jumlah jam pelajaran  dan sebagainya.
Adapun dampak tidak langsung yang harus dikaji adalah dampak menganggurnya 270.151 guru madrasah diniyah yang akan tutup akibat kebijakan ini baik dampak sosial, ekonomi maupun kultural dan dampak berkurangnya pendidikan moral keagamaan dan pelajaran budi pekerti yang selama ini diajarkan di madrasah diniyah.
Anak-anak haruslah diberikan waktu untuk bermain, mengaji dan berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat di rumah dan lingkungannya secara seimbang. Janganlah demi mengejar kepintaran akademis tapi meninggalkan kepintaran sosial. Janganlah demi mengejar pendidikan karakter seperti yang dijanjikan menteri pendidikan dan kebudayaan dengan gagasan sekolah fullday-nya namun mengorbankan pendidikan moral keagamaan dan pendidikan budi perkerti yang justru diperlukan untuk menyongsong era globalisasi.
Janganlah dengan dalih menyelesaikan masalah anak di kota-kota besar tapi mengorbankan anak seluruh Indonesia dan juga beserta orang tuanya serta guru-guru madrasah diniyah yang jumlahnya tidak bisa dianggap kecil. Janganlah bagaikan film-film drama Amerika yang untuk menyelamatkan sandra satu atau dua orang  namun dengan mengorbankan 100 orang pasukan . Mending membenahi secara serius dan intens terhadap infrastruktur pendidikan seperti peningkatan kwantitas dan kwalitas ruang belajar mengajar, perpustakaan, labolatorium, kantor dan lainnya serta membenahi kwalitas dan kwantitas guru, dan tenaga pengajar lainnya serta membenahi metode belajar dan kurikulum yang carut-marut.
Semestinya sebelum menerapkanl sekolah fullday tersebut mendikbud haruslah  melakukan kajian yang mendalam dan menyeluruh terhadap semua aspek. Baik kesiapan infrastruktur maupun suprastruktur pendidikan,  juga harus dikaji dampak-dampak yang ditimbulkannya baik secara langsung maupun tidak langsung. Janganlah berkesan ganti menteri ganti kebijakan selalu muncul ke permukaan setiap ada menteri baru, apalagi ini menyangkut masa depan generasi muda bangsa yang akan mengemban tongkat estafet negeri dan bangsa ini ke depan. (KH, 15 Juni 2017)

1 Komentar

​Kartini, Kyai Sholeh Darat dan Kitab Tafsir Faidhur Rohman

Oleh : Khozanah Hidayatiq

SETIAP tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan yang merujuk pada lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April 1879. Kartini hidup pada zaman ketika kekuatan budaya masyarakat sangat permisif memandang perempuan. Zaman ketika budaya feodalisme dan patriaki masih dijunjung tinggi di bumi Nusantara. Zaman ketika  perempuan harus menanggung “double colonisation” (Kirsten Holst Petersen & Anna Rutherford, Beginning Postcolonialism, 2008). Penjajahan dari bangsa asing dan penjajahan dari bangsa sendiri yakni budaya patriaki.
RA Kartini berani berteriak lantang. Ia berusaha mendobrak kekakuan sehingga lahirlah mainstream paradigma baru terhadap perempuan di Indonesia. Namanya pun hingga kini terus dikenang sebagai pelopor pejuang emansipasi wanita Indonesia. Ini adalah bukti perhargaan bangsa Indonesia terhadap perjuangannya.
Kisah hebat perjuangan Kartini tersebar ke seluruh dunia berkat surat menyuratnya dengan sahabat-sahabat penanya di benua Eropa seperti Stella Zihandelaar, Ny. Abendanon dan Ny. Van Kol. Yang kemudian pada tahun 1911 oleh J.H. Abendanon surat-surat tersebut dibukukan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul “Door Duisternis Toot Licht” atau dalam bahasa Indonesia artinya “Dari gelap menuju cahaya” yang kemudian oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Ternyata kalimat “Dari Gelap Menuju Cahaya” adalah sebuah penggalan dari ayat suci Al Qur’an Surat Al Baqoroh 257 yakni “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” atau dalam bahasa aslinya “minazh-zhulumaati ilannuur”. Kalimat “minazh-zhulumaati ilannuur” yang dalam bahasa Belanda Door Duisternis Tot Licht, itu sebenarnya berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”, jadi bukan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Walau terlanjur diartikan seperti itu tidak menghilangkan pemikiran R.A. Kartini yang menginginkan perubahan dari kegelapan menuju cahaya terang.
Bagaimana Islam menginspirasi RA.Kartini dalam perjuangannya mengusahakan emansipasi kaum perempuan di Nusantara ini? Kalau membaca surat surat RA. Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Namun kisah berikut ini semoga bisa memberi informasi baru mengenai Islam yang telah menginspirasi dan memberi panduan kepada RA. Kartini dalam perjuangannya.
Surat-surat RA Kartini kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus orientalis itu, dalam surat surat Kartini beliau sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang (lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat). Namun alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah pertemuan RA. Kartini dengan kyai tersohor dan guru para ulama terkemuka di Nusantara ini.
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Kyai Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Kyai Sholeh Darat.
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. RA Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami karena selama ini RA Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Kyai Sholeh Darat Semarang adalah guru para ulama besar di indonesia diantaranya: KH. A.Dahlan (pendiri muhamadiyah) KH. Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama NU), KH. Kholil Rembang, KH. Munawir Krapyak Yogyakarta, Kyai R. Dahlan Tremas dan kyai-kyai lain yang kemudian menjadi pioneer atau pengasuh di masing-masing pesantren yang didirikannya.
Dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya  tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an.  Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”
Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu: Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).
Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,  Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon: “Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan”.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis: “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai”.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah”.
Hal-hal tersebut di ataslah yang sebenarnya membesarkan nama RA Kartini di samping sebagai pelopor Utama emansipasi wanita di Nusantara, beliau juga berjasa dalam mempelopori upaya menggerakkan Kyai Sholeh Darat untuk menerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa dengan huruf arab pegon dan bisa dinikmati dan dimengerti makna per makna dari Ayat Suci Al-Qur’an.
Perjuangan RA Kartini untuk diadakannya terjemahan kitab Al Qur’an ke dalam bahasa lokal perlu dihidupkan lagi semangatnya sehingga kandungan dalam kitab suci Al Qur’an bisa dihayati, dimengerti kemudian diamalkan sebagaimana tujuan diturunkannya kitab ini adalah agar dijadikan pedoman bagi umat manusia.
Perjuangan RA. Kartini yang menggerakkan Kyai Sholeh Darat menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab pegon perlu dimasyarakatkan agar sejarah ini tidak terhapus dan tentunya bisa ditauladani oleh generasi kini dan generasi mendatang. Sehingga RA. Kartini tidak saja dikenal dan dikenang sebgai pejuang emansipasi wanita semata namun juga dikenang dan dikenal sebagai pelopor untuk diadakannya tafsir Al Qur’an dalam bahasa lokal (KH, 06 April 2017).
Penulis adalah Anggota FPKB DPRD Jatim
http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/kartini-kyai-sholeh-darat-dan-kitab-tafsir-faidhur-rohman

Tinggalkan komentar

Dukungan untuk Halim Menguat

SURABAYA – Dukungan untuk Abdul Halim Iskandar sebagai calon gubernur (cagub) Jawa Timur menguat. 

Ini setelah DPW Perempuan Bangsa (PB) Jatim meminta seluruh pengurusnya yang berjumlah 135.000 orang untuk all out mendukung ketua DPRD Jatim ini maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim yang akan berlangsung pada 2018 mendatang. Mesin politik ini memastikan tidak akan berpaling ke calon lain meskipun sama-sama berasal dari kalangan nahdliyin. ”Hubungan Muslimat NU dan PKB ini masih sangat solid. Dari data yang ada selama ini, pemilih PKB kebanyakan adalah kaum perempuan,” kata Ketua DPW PB Jatim Anik Maslachah, kemarin. Pihaknya optimistis jika Halim Iskandar diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan memenangi pilgub. 

”PKB ini sudah punya dua modal yang kuat, yaitu modal sosial dan modal politik. Modal sosialnya, Pak Halim sudah dangat dikenal di kalangan nahdliyin. Sedangkan modal politiknya, PKB sebagai partai pemenang 20 kursi, bisa langsung mengusung calonnya sendiri,” katanya. Pertimbangan lainnya adalah pengalaman Halim Iskandar yang pernah menjabat ketua DPRD Jombang dua periode dan ketua DPRD Jatim juga dua periode. ”Pak Halim pasti sudah tahu solusi tiap permasalahan di Jatim. Dedikasi dan loyalitasnya sangat tinggi,” papar Anik yang juga anggota DPRD Jatim. 

Ia mengakui, PB selaku badan otonom dari PKB harus selalu siap melaksanakan tugas dan perintah DPW PKB PKB Jatim untuk memenangkan kakak kandung Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar tersebut sebagai Gubernur Jatim. Terutama menguatkan basis dukungan untuk segmentasi kaum perempuan. ”Jika ditotal, jumlah pengurus PB se-Jatim itu 135.000 orang. Mulai dari level ranting (desa) sampai cabang (kabupaten/ kota). Mereka nanti yang akan jadi ujung tombak untuk mengorganisir relawan sampai level TPS. Itulah mesin politik yang akan PB Jatim gerakkan sebagai instrumen pemenangan Pak Halim,” tegasnya. 

Sekretaris DPW PB Jatim Khozanah Hidayati menambahkan, sosok Halim Iskandar sejauh ini relatif diterima dengan baik oleh segenap eksponen perempuan. Hal ini didasari oleh kebijakan Halim yang diklaim banyak berpihak pada upaya pembangunan berbasis gender. ”Pak Halim itu meski bukan perempuan tapi punya sensitivitas gender yang baik. Di PKB sudah mengakomodasi keterwakilan perempuan lebih dari 40%,” jelas Khozanah. 

Zaki zubaidi 

Tinggalkan komentar

​Rapatkan Barisan, Perempuan Bangsa Jatim Siap Menangkan Pak Halim

Surabaya, matahationline.com – Menjelang dideklarasikannya Pak Halim sebagai Calon Gubernur Jatim oleh PKB pada pertengahan tahun ini, beberapa organ sayap partai berlambang bintang sembilan tersebut mulai merapatkan barisan. Salah satunya adalah Perempuan Bangsa Jawa Timur (DPW PB Jatim). Menurut Ketua DPW PB Jatim, Anik Maslachah, tahun ini adalah saatnya bagi PB Jatim untuk tancap gas. “DPW PB Jatim sudah lakukan deklarasi dukungan kepada Pak Halim sebagai Cagub Jatim pada awal 2016, setahun lalu. Sejak itu ibaratnya mesin politik sudah kami panaskan. Nah, sekarang masuk tahun 2017 waktunya untuk tancap gas,” jelas Anik di ruang Fraksi PKB DPRD Jatim, Senin (27/02).

Menurut Anik, Perempuan Bangsa selaku badan otonom dari PKB harus selalu siap melaksanakan tugas dan perintah DPW PKB PKB Jatim untuk memenangkan Pak Halim sebagai Gubernur Jatim tahun 2018. Terutama menguatkan basis dukungan untuk segmentasi kaum perempuan. Karena itu pihaknya telah melakukan beberapa agenda diantaranya menggelar Festival “Lagu Holopis” pada bulan Mei 2016 dan melakukan konsolidasi pengurus, kader dan relawan melalui Lomba Senam Holopis seluruh Kab/Kota se-Jatim yang pemenangnya akan ditampilkan dalam Forum Deklarasi Pak Halim sebagai Cagub Jatim pada pertengahan tahun ini.
“Jika ditotal, jumlah pengurus PB se-Jatim itu sekitar 135.000 orang. Mulai dari level ranting (desa) sampai cabang (Kab/Kota). Ratusan ribu kader itu nanti yang akan jadi ujung tombak untuk mengorganisir relawan sampai level TPS. Itulah mesin politik perempuan yang akan PB Jatim gerakkan sebagai instrumen pemenangan Pak Halim’” jelas Sekretaris Fraksi PKB DPRD Jatim tersebut.
Karena itu, Anik menambahkan untuk mewadahi antusiasme perjuangan para prajurit perempuan PKB tersebut, DPW PB Jatim sudah membentuk RPH (Relawan Penggerak Holopis) yang berbasis para guru, guru ngaji, Pelaku UMKM perempuan, dan kader penggerak TPS. “RPH ini merupakan wujud kristalisasi pergerakan para pengurus, kader dan simptisan PH dalam mewujudkan cita-cita Pak Halim Holopis Kuntul Baris dalam menata masa depan Jawa Timur agar lebih baik,” tambah legislator dari Dapil Jatim I (Surabaya-Sidoarjo) itu.
Saat memberikan keterangan itu, Anik juga didampingi oleh Sekretaris DPW PB Jatim Khozanah Hidayati. Dalam kesempatan tersebut Khozanah menambahkan bahwa sosok Pak Halim sejauh ini relatif diterima dengan baik oleh segenap eksponen perempuan. Hal ini didasari oleh kebijakan Pak Halim yang banyak berpihak pada upaya pembangunan berbasis gender. “Pak Halim itu meski bukan perempuan tapi punya sensifitas gender yang baik lho. Indikasinya, meski kebijakan affirmatif action pengarusutamaan perempuan dalam politik belum ada, di PKB sudah mengakomodasi keterwakilan perempuan lebih dari 40 persen,” jelas Neng Ana, panggilan akrab anggota Komisi D DPRD Jatim tersebut.

Karena itu, Khozanah optimis profil Pak Halim akan diterima oleh pemilih dari kalangan perempuan.

Tinggalkan komentar

​Mega Proyek Kilang Minyak Tuban Diharapkan Mampu Ciptakan Multiplier Effect

Tuban, PUBLIK.co.id – Sekretaris DPW Jawa Timur Perempuan Bangsa, Khozanah Hidayati mengatakan bahwa  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban harus mampu menjadi koordinator, fasilitator dan stimulator kaitannya dengan mega proyek ground breaking pembangunan kilang minyak Tuban yang rencananya akan dimulai pada pertengahan tahun ini.

Ia menjelaskan bahwa stake holder yang ada di Tuban harus menangkap peluang agar multlipier efect dari mega proyek tersebut nantinya dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat Tuban.
Ia menyebutkan, multiplier effect dari pembangunan kilang minyak tersebut mencakup bidang ekonomi dan sosial.
“Multiplier effect di bidang ekonomi akan memengaruhi besaran PDRB, peningkatan pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja dan keterkaitan terhadap sektor ekonomi lain akibat adanya kenaikan permintaan akibat adanya mega proyek kilang minyak tersebut,” tulis Khozanah di akun Twitternya @ana_khoz pada Minggu, 12 Februari 2017.
Adapun multiplier effect, lanjutnya, kaitannya dengan sosial adalah adanya peningkatan taraf hidup masyarakat, penigkatan pelayanan publik seperti layanan kesehatan, pendidikan, peningkatan akses ekonomi serta perbaikan infrastruktur lainnya.
“Agar multiplier effect tersebut maksimal maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban harus memfasilitasi suprastruktur dan infrastruktur yang bisa memaksimalkan manfaat multlipier effect tadi bagi masyarakat Tuban,” tulis Khozanah yang juga Anggota DPRD Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Khozanah juga menambahkan, Pemkab Tuban juga harus memfasilitasi perhitungan proyeksi kebutuhan tiap sektor akibat adanya peningkatan permintaan. Sehingga, tuturya, pengadaan sarana tidak tumpang tindih, over supply atau justru ketersediannya kurang.
Agar tidak menimbulkan gangguan di lingkungan sosial, Khozanah mengatakan, baiknya persyaratan tenaga kerja lokal dimasukkan sebagai persyaratan dalam dokumen AMDAL. Menurutnya, hal ini cukup beralasan dan bisa mengikat investor untuk tidak melanggarnya.
Selain itu, jelas Khozanah, agar multiplier effect benar-benar dirasakan masyarakat, Pemkab harus mewajibakan pihak investor untuk mendidik tenaga kerja lokal, termasuk dalam hal penggunaan kontraktor lokal.
“Prinsipnya, Pemkab harus bisa menjadi koordinator, fasilitator, dan stimulator untuk menjadikan proyek ini punya multiplier effect maksimal terhadap ekonomi Tuban,” jelasnya
http://www.publik.co.id/detail/2292/mega-proyek-minyak-tuban-diharapkan-mampu-ciptakan-multiplier-effect

Tinggalkan komentar

Kilang Minyak Tuban Sebagai Lokomotif Baru Ekonomi Daerah

http://www.suararakyattuban.com/2017/02/kilang-minyak-tuban-sebagai-lokomotif.html?m=1

Tinggalkan komentar