Posts Tagged Opiniku

​Kartini, Kyai Sholeh Darat dan Kitab Tafsir Faidhur Rohman

Oleh : Khozanah Hidayatiq

SETIAP tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan yang merujuk pada lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April 1879. Kartini hidup pada zaman ketika kekuatan budaya masyarakat sangat permisif memandang perempuan. Zaman ketika budaya feodalisme dan patriaki masih dijunjung tinggi di bumi Nusantara. Zaman ketika  perempuan harus menanggung “double colonisation” (Kirsten Holst Petersen & Anna Rutherford, Beginning Postcolonialism, 2008). Penjajahan dari bangsa asing dan penjajahan dari bangsa sendiri yakni budaya patriaki.
RA Kartini berani berteriak lantang. Ia berusaha mendobrak kekakuan sehingga lahirlah mainstream paradigma baru terhadap perempuan di Indonesia. Namanya pun hingga kini terus dikenang sebagai pelopor pejuang emansipasi wanita Indonesia. Ini adalah bukti perhargaan bangsa Indonesia terhadap perjuangannya.
Kisah hebat perjuangan Kartini tersebar ke seluruh dunia berkat surat menyuratnya dengan sahabat-sahabat penanya di benua Eropa seperti Stella Zihandelaar, Ny. Abendanon dan Ny. Van Kol. Yang kemudian pada tahun 1911 oleh J.H. Abendanon surat-surat tersebut dibukukan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul “Door Duisternis Toot Licht” atau dalam bahasa Indonesia artinya “Dari gelap menuju cahaya” yang kemudian oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Ternyata kalimat “Dari Gelap Menuju Cahaya” adalah sebuah penggalan dari ayat suci Al Qur’an Surat Al Baqoroh 257 yakni “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” atau dalam bahasa aslinya “minazh-zhulumaati ilannuur”. Kalimat “minazh-zhulumaati ilannuur” yang dalam bahasa Belanda Door Duisternis Tot Licht, itu sebenarnya berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”, jadi bukan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Walau terlanjur diartikan seperti itu tidak menghilangkan pemikiran R.A. Kartini yang menginginkan perubahan dari kegelapan menuju cahaya terang.
Bagaimana Islam menginspirasi RA.Kartini dalam perjuangannya mengusahakan emansipasi kaum perempuan di Nusantara ini? Kalau membaca surat surat RA. Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Namun kisah berikut ini semoga bisa memberi informasi baru mengenai Islam yang telah menginspirasi dan memberi panduan kepada RA. Kartini dalam perjuangannya.
Surat-surat RA Kartini kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus orientalis itu, dalam surat surat Kartini beliau sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang (lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat). Namun alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah pertemuan RA. Kartini dengan kyai tersohor dan guru para ulama terkemuka di Nusantara ini.
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Kyai Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Kyai Sholeh Darat.
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. RA Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami karena selama ini RA Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Kyai Sholeh Darat Semarang adalah guru para ulama besar di indonesia diantaranya: KH. A.Dahlan (pendiri muhamadiyah) KH. Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama NU), KH. Kholil Rembang, KH. Munawir Krapyak Yogyakarta, Kyai R. Dahlan Tremas dan kyai-kyai lain yang kemudian menjadi pioneer atau pengasuh di masing-masing pesantren yang didirikannya.
Dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya  tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an.  Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”
Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu: Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).
Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,  Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon: “Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan”.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis: “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai”.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah”.
Hal-hal tersebut di ataslah yang sebenarnya membesarkan nama RA Kartini di samping sebagai pelopor Utama emansipasi wanita di Nusantara, beliau juga berjasa dalam mempelopori upaya menggerakkan Kyai Sholeh Darat untuk menerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa dengan huruf arab pegon dan bisa dinikmati dan dimengerti makna per makna dari Ayat Suci Al-Qur’an.
Perjuangan RA Kartini untuk diadakannya terjemahan kitab Al Qur’an ke dalam bahasa lokal perlu dihidupkan lagi semangatnya sehingga kandungan dalam kitab suci Al Qur’an bisa dihayati, dimengerti kemudian diamalkan sebagaimana tujuan diturunkannya kitab ini adalah agar dijadikan pedoman bagi umat manusia.
Perjuangan RA. Kartini yang menggerakkan Kyai Sholeh Darat menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab pegon perlu dimasyarakatkan agar sejarah ini tidak terhapus dan tentunya bisa ditauladani oleh generasi kini dan generasi mendatang. Sehingga RA. Kartini tidak saja dikenal dan dikenang sebgai pejuang emansipasi wanita semata namun juga dikenang dan dikenal sebagai pelopor untuk diadakannya tafsir Al Qur’an dalam bahasa lokal (KH, 06 April 2017).
Penulis adalah Anggota FPKB DPRD Jatim
http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/kartini-kyai-sholeh-darat-dan-kitab-tafsir-faidhur-rohman

Tinggalkan komentar

​Minat Baca, Media Sosial dan Berita Hoax

Oleh : Khozanah Hidayati (Anggota FPKB DPRD Jatim)
Jika kita cermati dan perhatikan seksama di tengah-tengah masyarakat dewasa ini, ternyata antara  ketiga kata majemuk sebagai  judul tulisan ini memiliki saling keterkaitan antara satu dengan lainnya.  Coba kita perhatikan hasil penelitian dari The World’s Most Literate Nations (WMLN) perihal  tingkat literasi dunia pada April 2016 yang menempatkan Indonesia di urutan buncit, posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Lebih tinggi satu tingkat dari pada Botswana, negara kecil di benua Afrika dengan penduduk yang hanya 2,1 juta jiwa. Sungguh memprihatinkan bukan?
Di sisi lain, tingkat kecerewetan orang Indonesia menempati posisi atas. Amerika boleh mengklaim sebagai  negara dengan jumlah pengguna Twitter terbanyak di dunia, tapi dalam hal urusan cuitan, Indonesia menempati urutan nomor satu dinilai dari jumlah cuitan yang disemburkan setiap waktu via Twitter. Untuk sepanjang tahun 2016 lalu dalam setahun jumlah twittan orang Indonesia adalah sejumlah 4,1 milyar. Jumlah ini menurut CEO Twitter di Indonesia menjadikan Indonesia menjadi teraktif dan termasif di dunia dalam hal berkicau via medsos Twitter. Andaikata cuitan via Twitter ini digabung dengan rilisan status di linimasa Fecebook dan jeprat-jepret Instagram, sudah pasti Indonesia akan menjadi jawara sejagat.
Coba kita cermati data- data berikut ini. Menurut menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) pada tahun 2016 jumlah netizen di Indonesia adalah  132,7 juta jiwa atau 51,1 persen dari total penduduk Indonesia.  Adapun menurut  situs statista.com, lima besar sosial media yang paling banyak digunakan netizen Indonesia berturut-turut adalah Facebook, Instagram, Twitter, Path, dan Google+. Besarnya netizen Indonesia yang menggunakan Facebook, menempatkan Indonesia pada peringkat keempat negara dengan pengguna Facebook terbanyak di dunia. Sementara tiga besar negara pengguna Facebook di dunia adalah India dengan 195,16 juta pengguna, Amerika Serikat dengan 191,3 juta pengguna, dan Brazil dengan 90,11 juta pengguna.
Sebegitu banyaknya nitizen di Indonesia, aktifitas apa yang paling banyak dilakukan oleh mereka adalah berbagi informasi dengan pelaku sebanyak 129,3 juta, diikuti dengan aktifitas berdagang dengan pelaku sebanyak 125,5 juta, dan aktiftas sosialisasi kebijakan pemerintah dengan pelaku sebanyak 119,9 juta (Data APJII 2016).
Demikian dapat dilihat bahwa netizen Indonesia adalah sebuah komunitas besar dengan jumlah lebih dari separuh populasi Indonesia yang selalu terhubung dan aktif berbagi informasi. Lantas, kenapa berita hoax atau berita palsu menjadi begitu dominan?
Lihatlah di linimasa utamanya media sosial dewasa ini, sungguh sangat memprihatinkan karena berita-berita hoax atau fitnah murahan tersebar, disukai, di-“share” dan dikomentari dengan gampangnya seolah-olah berita tersebut benar adanya. Padahal berita-berita tersebut berita palsu dan fitnah murahan yang tujuannya bervariasi mulai dari tujuan politik, menjatuhkan kredibilitas seseorang sampai yang paling konyol hanya sebagai joke atau guyonan. 
Bahkan di negara melek aksara seperti Amerika pun bisa dikacaukan oleh berita hoax, yang menyebabkan Donald Trump jadi presiden terpilih di pilpres akhir 2016 lalu, apalagi negara kita.

Bahkan pembuatan dan penyebaran berita palsu atau berita hoax ini sudah dijadikan profesi untuk menangguk  uang. Seperti yang dilakukan oleh para remaja di kota Veles, sebuah kota kecil di Mekadonia (salah satu negara bekas Yugoslavia). Misalnya Victor bisa meraup uang sampai  setara 2,6 M rupiah  dari pembuatan dan penyebaran berita hoax selama kampanye pilpres USA tahun 2016 lalu. 
Hebat  tapi sangat memprihatinkan bukan?  Nah, para pembuat web “abal-abal” ini mereguk keuntungan dari berita hoax dan berita fitnah yang dirilis dan dibaca lalu disebarkan oleh orang dungu yang terpesona berita-berita menakjubkan dan bombastis.  Kedunguan dalam menyebar berita hoax dan palsu bisa menimpa siapapun. Bisa saya, anda atau siapa saja. Bahkan seorang khatib jumat pun mengutip hoax dalam materi khutbah yang dia sampaikan. Ini sama konyolnya dengan doktor alumni luar negeri yang menyebarkan hoax versi Jonru. Jika seorang doktor saja mengutip hoax versi Jonru, maka bagaimana kita bisa mengukur kualitas pendidikan kita?
Perihal berita hoax atau berita palsu ini sebenarnya kita telah diingatkan oleh Al Quran surat Al-Hujarat ayat 6, dimana asbabun nuzulnya dari ayat tersebut berkaitan dengan berita hoax yang diterima oleh kaum mukminin dan nyaris terjadi pertumpahan darah gara-gara informasi palsu ini, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan pentingnya klarifikasi atau istilahnya tabayyun atau  kroscek untuk mengkonfirmasi sebuah kabar berita.
Media Sosial Menurunkan Minat Baca

Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) perkembangan teknologi digital seperti media sosial ternyata menyebabkan minat baca masyarakat menjadi rendah. Sebenarnya minat baca masyarakat masih tinggi namun waktu masyarakat banyak tersita untuk media sosial dibandingkan membaca buku. Padahal akhir-akhir ini banyak beredar buku bagus dan berkualitas namun minat masyarakat untuk membaca tetap saja rendah. Rendahnya minat baca masyarakat tidak hanya terhadap buku yang dicetak tapi juga terhadap buku digital atau e-book.

Yang pasti, turunnya minat membaca buku-buku dan literatur lainnya di masyarakat dipengaruhi akan naiknya minat bercuap-cuap via media sosial baik Facebook, Twitter, Instagram atau media sosial lainnya. Semakin tinggi hasrat berkomentar di linimasa biasanya dipengaruhi hasrat  membaca. Mereka biasanya malas untuk membaca berita secara paripurna namun langsung melontarkan komentar-komentar yang asal-asalan.
Sedangkan rendahnya budaya membaca akan memompa semangat menyebar berita apapun yang telah diterima. Adapun keinginan menjadi nomor satu telah membuat orang bergegas menyebar berita yang didengar maupun dibaca walau berita tersebut adalah palsu atau hoax.
Kenapa Orang Indonesia Getol Menyebarkan Hoax?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa berita palsu alias hoax merajalela di ranah digital tanah air. Jalurnya bisa berupa situs online, media sosial, hingga chatting di aplikasi pesan instan. Penyebab masyarakat  getol menyebarkan berita hoax adalah yang pertama karena berkaitan dengan penggunaan teknologi yang tidak dibarengi dengan budaya kritis melihat persoalan  (menurut Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax). Walhasil, masyarakat pengguna internet di Indonesia cenderung suka menyebarkan informasi ke orang lain tanpa lebih dulu memeriksa kebenarannya.
Penyebab kedua adalah sikap sebagian orang yang lebih senang ngerumpi ketimbang membaca. Kalau dahulu untul ngerumpi harus saling bertatap muka sekarang bisa dilakukan secara jarak jauh. Sehingga budaya gemar ngerumpi semakin menemui sarananya.
Penyebab ketiga adalah adanya kebanggaan diri jika menjadi orang pertama atau bagian dari orang yang menyebarkan suatu berita yang nantinya akan menjadi berita viral. Banyak orang merasa hebat kalau jadi yang pertama menyebarkan informasi, entah benar atau tidak. Apalagi kalau nantinya verita tersebut menjadi verita viral di media sosial.
Padahal menyebarkan berita hoax adalah hal berbahaya karena akibatnya bisa sangat merugikan bagi pihak yang menjadi korban, mulai dari kehilangan reputasi, materi, bahkan juga bisa mengancam nyawa. Bahkan bisa dikatakan berita hoax bagaikan narkoba karena sama-sama adiktif terhadap pelakunya. 
Dewasa ini penyebaran berita hoax jauh lebih masif lantaran didorong oleh media sosial. Di internet, penyebar hoax merasa “aman” karena tidak berhadapan langsung dengan pihak lain yang dijadikan sasaran hoax.
Untuk mencegah akibat buruk yang ditimbulkan penyebaran berita hoax, tentunya masyarakat harus bersikap lebih kritis dalam menjumpai informasi yang dijumpai di internet, entah lewat situs online, medsos, ataupun pesan chatting. Melakukan tabayyun atau cross check perihal kebenaran berita yang akan disebar lebih dahulu. Jika tidak jelas status kebenarannya maka stop berita tersebut.
Demikian juga berita hoax atau berita palsu harus diperangi secara bersama antara pemerintah dan masyarakat. Inisiasi masyarakat membentuk  Komunitas Anti Hoax Indonesia atau sejenisnya perlu diapresiasi dan diperkuat agar komunitas tersebut bisa mendorong masyarakat untuk mencegah atau minimal tidak gampang mempercayai berita-berita hoax. Juga diperlukan langkah pemerintah untuk membuat aturan main perihal dunia online dan media sosial agar pembuat dan penyebar berita palsu atau hoax bisa diberi tindakan hukuman yang setimpal. Dan nantinya penegakan hukum atas peraturan yang ada harus benar-benar tegas dan adil.
Di samping itu harus juga dilakukan upaya untuk menaikkan minat baca masyarakat, sehingga dengan  menguatnya minat baca diharapkan masyarakat bisa bertindak kritis saat membaca atau memperoleh berita-berita yang belum tentu benar adanya. Adapaun langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk meningkatkan minat baca masyarakat, pertama adalah memperbanyak ruang baca di tempat publik seperti pusat perbelanjaan, hotel dan lain-lain. Langkah  yang kedua adalah meningkatkan kualitas buku dan untuk menghasilkan buku berkualitas harus ada standarisasi. Langkah yang ketiga adalah menjadikan gemar membaca  sebagai gaya hidup masyarakat baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan.
Kalau cara-cara tersebut diterapkan tentunya budaya baca di tengah masyarakat bisa meningkat  sehingga masyarakat menjadi kritis dengan demikian berita-berita hoax atau berita palsu tidak akan lagi mendapat  tempat istimewa di tengah-tengah masyarakat.
Untuk itu agar minat baca masyarakat meningkat maka perlu kerja keras semua pihak. Namun perlu diingat bahwa gemar membaca adalah merupakan suatu produk budaya maka untuk pembenahanya perlu waktu lama dan kerja yang terencana dan sifatnya jangka panjang. Pemetintah harus mencanangkan peningkatan budaya baca secara terstruktur dan terencana serta berkesinambungan. Dan program tersebut harus dimasyarakatkan secara masif di tengah-tengah masyarakat sehingga gaung dan tujuannya bisa ditangkap dan diaplikasikan oleh masyarakat. Semoga!

Tinggalkan komentar

​Pro Kontra Dana Abadi Migas Bojonegoro, ini Paparan Mbak Ana 

BOJONEGORO, Matahati Online – Tahun ini proyek migas Blok Cepu di Bojonegoro sudah mencapai puncak produksi sesua POD awal sebesar 165 ribu barel minyak per hari, bahkan diproyeksikan bisa ditingkatkan menjadi 185-200 ribu barel per hari.

Kalau harga minyak tidak jatuh seperti sekarang ini, maka pundi-pundi uang dari migas Pemkab Bojonegoro akan semakin numpuk. Diperkirakan APBD Bojonegoro bisa mencapai 5-6 Trilyun per tahun. Suatu nilai yang cukup fantastik.
Dibentukya Dana Abadi Migas bertujuan agar dana yang terkumpul dari migas tidak habis dibelanjakan pada tahun berjalan. Sebagian ditabung dan diinvestasikan untuk dipergunakan hasilnya dikemudian hari saat penghasilan migas sudah turun atau habis. Sehingga Bojonegoro bisa punya dana dari sumber migas yang lestari.
Hal itu dipaparkan Khozanah Hidayati, Anggota DPRD Jatim melalui akun twitter @ana_khoz dalam menanggapi program Dana Abadi Migas.
“Gagasan Dana Abadi Migas di Bojonegoro ini masih penuh pro dan kontra, patut kiranya untuk didiskusikan guna mencari solusi terbaiknya,” kata perempuan yang akrab disapa Mbak Ana itu.
Mbak Ana melanjutkan, jika ditilik dari tujuan awalnya, Dana Abadi Migas memang sungguh sangat mulia, yakni agar Bojonegoro terhindar dari “Kutukan Sumberdaya”. Yakni Bojonegoro bisa terhindar dari kemiskinan di saat sumber migas nanti sudah habis dikuras dari bumi Angling Darmo ini.
Walau awalnya Bojonegoro melimpah dengan sumberdaya migas, di sisi lain, banyak juga yang kontra dengan Dana Abadi Migas karena kondisi infrastruktur di seluruh wilayah Bojonegoro masih jauh dari memadai. Dengan kondisi infrastruktur yang masih minim dan bidang pendidukan yg masih jauh tertinggal justru bermimpi membuat Dana Abadi Migas.
Menurut Mbak Ana, Kondisi infrastruktur di kabupaten Bojonegoro memang masih memprihatinkan. Seperti banyak sekali jalan rusak parah, ketiadaan saluran air yang memadai dan ketiadaan tanggul penahan banjir yang memadai. Sehingga sering mengakibatkan banjir baik banjir akibat meluapnya Bengawan Solo maupun banjir bandang di Bojonegoro Selatan.
“Kondisi yang demikian menjadi ironis jika ada dana tapi digunakan sebagai Dana Abadi Migas. Jika Dana Abadi Migas terus, bagaimana dengan pembangunan infrastruktur yang perlu dana besar itu, apakah dijalankan dengan pola seperti sekarang ini? Apakah kita tega melihat infrastruktur bobrok sementara ada Dana Abadi Migas yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk membuat infrastruktur bagus serta kebutuhan pertanian yang bisa mendongkrak Bojonegoro sebagai lumbung pangan nasional?” tegas Anggota Komisi D DPRD Jatim itu.
“Apakah tega melihat Bojonegoro setiap tahun terkena banjir Bengawan Solo di daerah Utara & banjir bandang di daerah Selatan? Apakah tega mlihat pemeo Jawa ini “nek ketigo gak iso cebok, tapi nek rendeng gak iso ndodok” disematkan untuk Bojonegoro?” lanjutnya.
Saat musim penghujan daerah-daerah sepanjang aliran Bengawan Solo akan terkena banjir sehingga masyarakatnya tidak bisa dhodhok/jongkok karena banjir. Sedangkan masyarakat Bojonegoro bagian Selatan saat kemarau masyarakatnya tidak bisa cebok karena ketiadaan air.
Dia melanjutkan, tahun-tahun mendatang Bojonegoro akan memanen dana besar dari migas Blok Cepu. Sudah seyogyanya jika dana besar tersebut digunakan dan dikelola untuk kemaslahatan rakyat Bojonegoro. Yakni untuk percepatan pembangunan infrastruktur jalan, saluran, tanggul penahan banjir dan infrastruktur lainya serta meningkatkan pembangunan bidang pendidikan, kesehatan dan bidang perekonomian.
“Tapi jangan lupa bahwa ada hari esok dimana saatnya nanti migas sudah tidak ada di bumi Angling Darmo lagi, sehingga dana besar dari migas Blok Cepu tidak selamanya ada. Untuk Itu harus pintar-pintar mengelola dana migas tersebut,” pungkas Bendahara Fraksi PKB DPRD Jatim itu. [an]

http://matahationline.com/berita-pro-kontra-dana-abadi-migas-bojonegoro-ini-paparan-mbak-ana.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Tinggalkan komentar